Jakarta - Dalam sebuah langkah yang menarik perhatian, Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap buku pelajaran yang digunakan oleh siswa. Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, mengungkapkan bahwa Presiden sangat peduli dengan pembaruan buku ajar yang ada. Prabowo memberikan instruksi agar kualitas beberapa buku diperbaiki.
"Presiden mengecek satu per satu buku pelajaran yang digunakan para siswa, mulai dari kualitas bahan, ukuran huruf, hingga kenyamanan saat dibaca," ucap Teddy dalam unggahan di Instagram @sekretariat.kabinet, yang dikutip pada Sabtu (8/8/2026).
Perbandingan dengan Buku dari Negara Lain
Buku-buku yang diperiksa oleh Prabowo tidak hanya berasal dari dalam negeri, tetapi juga mencakup beberapa buku pelajaran dari negara tetangga yang digunakan sebagai perbandingan dan bahan evaluasi. Setelah melakukan perbandingan, Prabowo memberikan masukan untuk memperbaiki desain buku agar lebih menarik. Ia juga meminta agar ukuran huruf diperbaiki agar lebih nyaman dibaca oleh siswa.
"Buku ajar diharapkan hadir dengan desain yang lebih menarik, ukuran huruf yang lebih nyaman dibaca, serta menggunakan bahan yang lebih baik sehingga dapat digunakan dalam jangka waktu yang lebih panjang," jelas Teddy.
Permintaan Desain Ulang untuk Buku SD
Secara khusus, Prabowo meminta agar buku pelajaran untuk kelas 1 hingga 3 SD didesain ulang. Ia mencatat bahwa saat ini banyak siswa cenderung menulis dengan huruf kecil.
"Sehingga ya ini dari Pak Seskab sampaikan, mengecek nanti intinya akan diperbaiki untuk menjadi lebih baik. Dan salah satu petunjuk Bapak Presiden juga kita diminta untuk mendesain buku menulis terutama adik-adik kelas 1, kelas 2, kelas 3 SD dan garisnya besar-besar karena sekarang ada kecenderungan adik-adik tulisannya kecil-kecil," ungkap Menteri Sekretariat Negara, Prasetyo Hadi.
Inisiatif Mengurangi Ketergantungan Gadget
Langkah pembaruan buku bacaan ini bertujuan untuk membuat siswa lebih betah membaca buku dan mengurangi penggunaan gadget. Prasetyo menekankan bahwa buku fisik dapat membantu melatih kemampuan menulis siswa.
"Jangan dianggap ini kita kembali ke era jadul ya, tidak ya. Sebab bahkan beberapa negara di Eropa sekarang mengurangi ketergantungan terhadap gadget dan kembali ke apa namanya membiasakan untuk kembali ke buku-buku bentuk fisik selain melatih kemampuan menulis, mengurangi ketergantungan terhadap gadget juga diharapkan menumbuhkan kepercayaan diri, rajin dalam mencatat. Harapannya dengan mencatat terjadi apa namanya penajaman terhadap daya ingat," katanya.