Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Prabowo Subianto bertemu dengan Panglima Jilah, pemimpin Pasukan Merah Tariu Borneu Bangkule Rajakng (TBBR), di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, pada Jumat (28/8) lalu. Dalam pertemuan tersebut, Prabowo memberikan instruksi terkait keinginan Panglima Jilah, termasuk permohonan masyarakat Dayak untuk bergabung menjadi anggota TNI-Polri dengan penyesuaian syarat, seperti penggunaan tato bagi suku adat.
Rapat Lanjutan dengan Panglima TNI dan Menteri
Pada hari berikutnya, Sabtu (29/8), Prabowo memanggil Panglima TNI, para kepala staf angkatan, dan sejumlah menteri di kediamannya di Hambalang. Dalam pertemuan itu, Prabowo meminta informasi terbaru mengenai beberapa isu, termasuk syarat perekrutan bagi masyarakat Dayak pedalaman yang ingin menjadi prajurit TNI. "Dalam pertemuan tersebut, Presiden meminta perkembangan mengenai beberapa hal antara lain, penyesuaian syarat terkait perekrutan suku Dayak pedalaman yang ingin menjadi prajurit TNI, penanganan beberapa bencana antara lain pascagempa bumi di Flores, erupsi Gunung Merapi, serta penanganan Kebakaran Hutan Lahan di Indonesia khususnya Kalimantan dan Sumatra," demikian pernyataan dari Sekretaris Kabinet RI yang diunggah di akun Instagram resmi.
Tindak Lanjut dari Mabes TNI
Sementara itu, Markas Besar TNI menyatakan akan menindaklanjuti arahan Presiden Prabowo Subianto terkait penerimaan Suku Dayak yang ingin menjadi prajurit TNI. "Segala petunjuk dan arahan Bapak Presiden, TNI akan menindaklanjuti," ujar Kepala Pusat Penerangan TNI Mayjen Muhammad Nas saat dihubungi pada Minggu (30/8). Ia menambahkan bahwa TNI memberikan kesempatan kepada seluruh putra-putri bangsa untuk mengabdi. "Mengenai mekanisme dan bentuk penyesuaiannya, akan disampaikan setelah pembahasan dan penetapannya selesai," jelasnya.