Jakarta - Anthropic, sebuah perusahaan AI yang berbasis di Silicon Valley, telah mengakuisisi jutaan buku langka dengan tujuan untuk memusnahkannya setelah melalui proses pemindaian. Tindakan ini menimbulkan beragam reaksi dari publik dan para ahli di seluruh dunia.
Menurut laporan dari The Telegraph, buku-buku langka tersebut akan dipindai menggunakan teknologi canggih sebelum salinan fisiknya dihancurkan. Proses ini dilakukan untuk menghindari masalah hak cipta, setelah buku tersebut didigitalisasi.
Penyebab Fenomena Pemusnahan Buku
Para penjual buku menyatakan bahwa langkah ini dipicu oleh kondisi yang dikenal sebagai data wall, di mana perusahaan AI mulai kehabisan sumber data digital yang tersedia di internet. Hal ini mendorong mereka untuk mencari karya asli yang belum pernah dipublikasikan dalam format digital.
Dampak Terhadap Ilmu Pengetahuan
Dr. Joko Santoso, M Hum, selaku Ketua Forum Perpustakaan Digital Indonesia (FPDI), menilai bahwa pemusnahan buku ini merupakan sinyal bahaya bagi perkembangan ilmu pengetahuan. "Jika informasi hanya mengandalkan hasil digitalisasi, siapa yang menjamin tidak ada perubahan isi? Oleh karena itu, tugas perpustakaan adalah memastikan sumber asli tetap dapat ditelusuri," ungkap Joko dalam laman UMY.
Ia menegaskan bahwa edisi pertama buku cetak adalah representasi autentik dari penulis, sehingga keberadaan naskah fisik asli harus dipertahankan sebagai rujukan utama.
Peringatan tentang Monopoli Data
FPDI juga mengingatkan tentang potensi monopoli data yang mungkin terjadi akibat pemusnahan naskah fisik. Jika semua naskah fisik dihancurkan dan data digital hanya dikuasai oleh perusahaan, masyarakat berisiko kehilangan akses terhadap informasi secara gratis. "Jika seluruh pengetahuan beralih ke digital dan dikuasai perusahaan AI, masyarakat bisa bergantung pada layanan berbayar," tegasnya.
FPDI menekankan pentingnya digitalisasi dengan tujuan pelestarian dan perluasan akses publik. Mereka mendorong agar isi naskah kuno dapat dihidupkan melalui berbagai media modern, seperti multimedia, komik, dan animasi, agar tetap relevan bagi generasi muda.