Fakta Pendidikan

Rencana Trump Mengubah Nama Samudera: Proses dan Tantangannya

Presiden AS Donald Trump mengusulkan kemungkinan penggantian nama Samudera Atlantik dan Pasifik, yang memicu diskusi mengenai bagaimana nama-nama samudera ditentukan secara internasional.

W
Wira Yudha
29 August 2026
29 pembaca
Potret Samudra Pasifik. (Foto: DW (News))
Potret Samudra Pasifik. (Foto: DW (News))

Jakarta - Terdapat lima samudera yang diakui di dunia, namun bagaimana proses penamaan samudera dilakukan oleh negara-negara? Isu ini mencuat setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengungkapkan ide untuk mengubah nama samudera yang membatasi wilayah AS, yaitu Atlantik dan Pasifik.

Dalam sebuah wawancara di CNN, Trump menyatakan, "Kita punya sebuah gulf (teluk, dari Teluk Meksiko ke Teluk Amerika-red) dan sekarang kita punya sebuah lake (danau, dari Danau Ontario ke Danau Amerika-red). Yang kita butuhkan sekarang hanyalah sebuah ocean (samudra)." Ia menambahkan, "Jadi, mungkin kita harus mengganti nama Atlantik dan/atau Pasifik. Mungkin kita akan mengganti keduanya."

Geografi dan Penamaan Samudera

Secara geografis, Samudera Pasifik dan Atlantik tidak hanya mencakup wilayah AS, tetapi juga meliputi Kanada dan negara-negara di Benua Amerika Selatan. Penamaan samudera saat ini ditentukan oleh dua organisasi internasional, yaitu UNGEGN dan IHO.

Profesor Hubungan Internasional dari American University, Hansong Li, menjelaskan bahwa penamaan geografis yang diusulkan Trump dapat menjadi sumber sengketa di antara negara-negara yang berbagi perbatasan. Ia menyebutkan, "Biasanya, persaingan penamaan terjadi di sepanjang garis patahan yurisdiksi geografis; artinya, Anda akan melihat nama-nama yang bersaing di berbagai negara." Menurutnya, untuk mengubah 'Teluk Meksiko' menjadi 'Teluk Amerika' secara internasional, Amerika Serikat harus melakukan beberapa langkah, termasuk membangun 'front persatuan' dengan IHO dan UNGEGN.

Li juga menambahkan bahwa AS perlu mencapai kesepakatan diplomatik dengan Meksiko, Kuba, dan negara-negara Amerika Latin lainnya. Namun, kondisi geopolitik saat ini membuat kesepakatan tersebut sulit dicapai. "Karena mereka terlalu terperangkap dalam sengketa perdagangan saat ini untuk mempertimbangkan nama perairan," ujarnya.

Peran UNGEGN dan IHO dalam Penamaan

UNGEGN, yang merupakan bagian dari Perserikatan Bangsa-Bangsa, bertugas untuk menangani nama-nama geografis demi tercapainya program standardisasi yang efektif baik di tingkat nasional maupun internasional. Organisasi ini berperan penting dalam mendukung administrasi yang akurat dan komunikasi yang jelas antara negara-negara.

Selain UNGEGN, IHO juga berperan dalam menstandarisasi batas samudera dan laut untuk keperluan navigasi. Secara historis, terdapat empat samudera yang diakui, yaitu Atlantik, Pasifik, Hindia, dan Arktik. Namun, banyak negara kini juga mengakui keberadaan Samudra Antartika, yang diusulkan oleh IHO pada tahun 2000.

Dalam dokumen ilmiah yang ditulis oleh Michel Huet, terdapat beberapa tahapan dalam penamaan samudera internasional. Pertama, IHO menyusun rujukan internasional untuk nama dan batas samudera. Kedua, negara-negara membahas dan menyetujui usulan nama. Ketiga, jika terdapat nama yang berbeda untuk fitur yang sama, negara-negara dianjurkan untuk merundingkan satu nama bersama. Terakhir, nama lokal resmi menjadi dasar untuk perairan nasional.

IHO bekerja sama dengan UNGEGN untuk memastikan bahwa standardisasi nama geografis dilakukan dengan baik. Setiap negara diharapkan memiliki otoritas penamaan geografis yang mendukung standardisasi internasional.

detik.com Sumber: detik.com

Artikel Terkait