Fakta Ekonomi

Rupiah Mengalami Penurunan ke Rp 18.128 per Dolar AS, Dipicu Faktor Fiskal

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami penurunan signifikan, mencapai Rp 18.128 per dolar AS pada penutupan perdagangan terbaru. Para pengamat menilai bahwa hal ini dipengaruhi oleh faktor-fak...

S
Stevani Nila Wardana
09 July 2026
35 pembaca
Foto: Republika/Prayogi
Foto: Republika/Prayogi

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami penyesuaian ke atas level Rp 18.000 per dolar AS. Penurunan mata uang Indonesia ini dianggap dipengaruhi oleh faktor-faktor fiskal yang sedang berlangsung.

Menurut data yang dirilis oleh Bloomberg, rupiah melemah sebesar 114 poin atau 0,63 persen, sehingga ditutup pada angka Rp 18.128 per dolar AS pada penutupan perdagangan pada hari Kamis (9/7/2026). Sebelumnya, rupiah berada di posisi Rp 18.014 per dolar AS.

Faktor APBN dan Sentimen Pasar

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa "Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang lebih cepat pada semester pertama 2026 menjadi sentimen negatif bagi pasar." APBN 2026 dirancang sebagai instrumen utama untuk menjaga stabilitas ekonomi dan mendukung delapan agenda prioritas nasional, termasuk penguatan ketahanan pangan dan energi, program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta peningkatan kualitas pendidikan dan layanan kesehatan.

APBN juga berfungsi sebagai instrumen fiskal strategis untuk meningkatkan produktivitas dan memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi nasional. Oleh karena itu, perkembangan APBN menjadi perhatian utama para pelaku pasar.

Penurunan Indeks Keyakinan Konsumen

Selain faktor APBN, penurunan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) juga berkontribusi terhadap sentimen negatif. "Sentimen konsumen merosot untuk bulan kedua berturut-turut pada Juni, mencapai titik terlemahnya sejak September tahun lalu," ungkap Ibrahim. Hasil Survei Konsumen yang dilakukan oleh Bank Indonesia untuk periode Juni 2026 menunjukkan adanya penurunan tingkat keyakinan masyarakat terhadap kondisi perekonomian nasional.

Data makro dari Bank Indonesia menunjukkan bahwa IKK pada Juni 2026 berada di level 117,8, menurun dibandingkan dengan Mei 2026 yang mencapai 120,9, serta Januari 2026 yang berada di level 127,0. Meskipun mengalami penurunan, Bank Indonesia menegaskan bahwa kondisi psikologis ekonomi masyarakat secara umum masih berada dalam zona aman, dengan keyakinan konsumen tetap terjaga karena IKK nasional berada di atas ambang batas optimistis sebesar 100.

Artikel Terkait