Fakta Ekonomi

Rupiah Menyentuh Rp17.600 per Dolar AS, Ekonom Ungkap Penyebabnya

Sabtu, 16 Mei 2026, 06:23 WIB 16 views 2 menit baca
Rupiah Menyentuh Rp17.600 per Dolar AS, Ekonom Ungkap Penyebabnya
Foto: Republika/Thoudy Badai
Bagikan:

JAKARTA -- M Syarkawi Rauf, seorang ekonom dari Universitas Hasanuddin, memberikan analisis mengenai hubungan antara risk premium dan penurunan nilai rupiah yang signifikan sepanjang tahun 2026. Ia menyatakan bahwa salah satu faktor penyebab melemahnya rupiah adalah tingginya risk premium yang melekat pada Indonesia.

Risk premium sendiri merupakan tambahan imbal hasil yang diharapkan oleh investor sebagai kompensasi atas risiko yang lebih tinggi dibandingkan dengan investasi yang dianggap lebih aman. “Sejak Januari 2026, Indonesia mengalami fenomena meningkatnya persepsi risiko yang tercermin pada country risk premium tinggi, yaitu sekitar 2,46 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan Malaysia yang hanya 1,55 persen dan Thailand 2,07 persen,” jelas Syarkawi dalam pernyataannya.

Pergerakan Nilai Tukar Rupiah

Rupiah tercatat telah menembus level Rp 17.500 per dolar AS pada Selasa (12/5/2026) dan bahkan mencapai Rp 17.600 pada perdagangan Jumat (15/5/2026). Syarkawi mengamati bahwa kondisi ini kontras dengan pergerakan mata uang ASEAN lainnya, seperti ringgit Malaysia dan baht Thailand, yang memiliki persepsi risiko lebih rendah. Nilai tukar ringgit Malaysia terhadap dolar AS menunjukkan tren penguatan sejak awal tahun 2026, sementara baht Thailand hanya melemah sekitar 1,07 persen dibandingkan bulan lalu.

“Tingginya equity risk premium Indonesia yang mencapai 6,69 persen sejak Januari 2026 juga berkontribusi pada penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang drastis, dari all-time high pada 19 Januari 2026 sebesar 9.147,5 menjadi hanya 6.853,5 pada 12 Mei 2026,” tambahnya. Hal ini menunjukkan bahwa IHSG menuju titik terendah dalam lima tahun terakhir, yaitu 6.272,0 pada 17 Maret 2025.

Analisis Fundamental Ekonomi

Syarkawi juga mencatat bahwa tingginya risk premium rupiah dapat terlihat dari anomali depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dalam beberapa hari terakhir. Ini terjadi meskipun Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,61 persen, yang merupakan yang tertinggi sejak tahun 2023. “Depresiasi ekstrem rupiah terhadap dolar AS tidak sejalan dengan pergerakan indikator fundamental makroekonomi nasional, seperti selisih suku bunga, pertumbuhan ekonomi, dan inflasi antara Indonesia dan AS,” ungkapnya.

“Fenomena depresiasi ekstrem rupiah dan penurunan tajam IHSG sejak Januari 2026 lebih mencerminkan tingginya premi risiko perekonomian nasional,” tutupnya.

W

Penulis

Wira Yudha

Penulis di Nalar Fakta

Berita Terkait