Fakta Ekonomi

Rupiah Tertekan Menuju Angka 18 Ribu, Geopolitik Timur Tengah Meningkatkan Kekhawatiran

Nilai tukar rupiah mengalami pelemahan pada Rabu pagi, dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mempengaruhi pasar. Analis memperkirakan dampak dari situasi tersebut akan berlanjut.

P
Panca Akbar Saputra
08 July 2026
35 pembaca
Foto: Republika/Thoudy Badai
Foto: Republika/Thoudy Badai

Nilai tukar rupiah pada Rabu pagi mengalami penurunan sebesar 4 poin atau 0,02 persen, menjadi Rp 17.984 per dolar AS, dibandingkan dengan penutupan sebelumnya yang berada di Rp 17.980 per dolar AS. Analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyatakan bahwa ketegangan geopolitik di Timur Tengah dapat memberikan tekanan lebih lanjut terhadap nilai rupiah.

Konflik AS dan Iran Meningkat

"Penyerangan besar AS ke Iran merupakan balasan atas serangan terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz," ungkapnya di Jakarta. Menurut laporan dari Sputnik, Amerika Serikat telah melancarkan serangkaian serangan baru ke Iran. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan bahwa operasi ini dilakukan sebagai respons terhadap serangan yang dilancarkan Iran terhadap tiga kapal dagang di Selat Hormuz.

Pada hari Selasa (7/7/2026), media nasional Iran, IRIB, melaporkan bahwa sebuah kapal Qatar, Al-Rekayyat, berusaha untuk melewati Selat Hormuz dengan dukungan Angkatan Laut AS. Namun, kapal tersebut menjadi target serangan setelah sejumlah peringatan diberikan.

Cadangan Devisa Indonesia Meningkat

Di tengah ketidakpastian tersebut, terdapat sentimen positif yang berasal dari peningkatan cadangan devisa Indonesia. Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa posisi cadangan devisa pada akhir Juni 2026 mencapai 145,6 miliar dolar AS, meningkat 700 juta dolar AS dibandingkan posisi akhir Mei 2026 yang sebesar 144,9 miliar dolar AS. Peningkatan ini didorong oleh penerimaan pajak dan jasa.

Namun, peningkatan cadangan devisa terjadi bersamaan dengan pembayaran utang luar negeri pemerintah serta kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah oleh Bank Indonesia sebagai respons terhadap tingginya ketidakpastian di pasar keuangan global. Posisi cadangan devisa pada akhir Juni 2026 setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, yang juga berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

"Namun, investor masih mengantisipasi indeks kepercayaan konsumen siang ini yang diperkirakan akan naik ke 125," jelas Lukman. Berdasarkan faktor-faktor ini, diperkirakan bahwa rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp 17.950 hingga Rp 18.050 per dolar AS.

Artikel Terkait