Jakarta - Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa sekitar satu juta lulusan dari program D4 hingga S3 di Indonesia masih terjebak dalam pengangguran. Angka ini diambil dari Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) yang dilakukan pada Mei 2026, yang mengindikasikan bahwa persentase pengangguran di kalangan lulusan tersebut mencapai 14,31%, setara dengan 1.033.182 individu.
Menanggapi situasi ini, Prof Eko Prasojo, Ketua Dewan Guru Besar Universitas Indonesia (UI), mengungkapkan beberapa strategi untuk membantu lulusan S1 agar dapat bersaing di dunia kerja. Menurutnya, masalah ini disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk tantangan dari ekonomi global serta metode pembelajaran yang diterapkan di kampus.
Pentingnya Soft Skill dalam Dunia Kerja
“Karena kan perubahan ekonomi global juga sekarang kan terjadi, apa istilahnya, penurunan pertumbuhan ekonomi secara global karena berbagai macam faktor global ya. Pasti itu ada,” ungkap Eko kepada wartawan setelah acara Temu Dewan Guru Besar UI yang berlangsung di Gedung Makara Art UI, Depok, Jawa Barat pada Rabu (12/8/2026).
Prof Eko menekankan bahwa penguatan soft skill merupakan kunci bagi kampus untuk menghasilkan lulusan yang siap bekerja dan sukses. Ia menjelaskan bahwa nilai akademik atau hard competence hanya berfungsi sebagai tiket masuk. “Yang pertama, bagaimana kita menjaga tetap relevan dengan kebutuhan industri dan profesi. Itu melalui perubahan kurikulumnya, learning outcome, atau luaran pembelajaran dan seterusnya. Yang kedua, kita terus membangun soft skill dari mahasiswa ya,” jelasnya.
Soft skill yang dimaksud mencakup kemampuan berbicara, menulis, memimpin, serta berinteraksi dan berkomunikasi. “Jadi yang pertama tadi hard competence, itu adalah learning outcome pembelajaran, apakah itu di bidang sosial, humaniora, kedokteran, ataupun sainstek. Tapi yang paling penting adalah memperkuat juga soft skill mahasiswa. Itu juga yang diperlukan sekali,” tambahnya.
Kampus Harus Menyesuaikan Jurusan dengan Kebutuhan Pasar
Rektor UI, Prof Heri Hermansyah, menambahkan bahwa hasil tracer study internal menunjukkan bahwa rata-rata waktu tunggu lulusan UI untuk mendapatkan pekerjaan berkisar antara dua hingga tiga bulan. Bahkan, banyak mahasiswa yang sudah mendapatkan tawaran pekerjaan sebelum mereka resmi lulus. Hal ini terutama terjadi pada lulusan dari jurusan Aktuaria dan Administrasi Fiskal.
“Ada yang sebelum lulus sudah bekerja. Saya dengar kemarin di Aktuaria, beberapa mahasiswa itu selesai sidang, belum wisuda, mereka sudah direkrut untuk bekerja di perusahaan tempat mereka magang,” ujar Heri.
Heri juga menyoroti bahwa saat ini pasar kerja lebih memerlukan lulusan dengan keahlian yang spesifik. Ia mencatat bahwa jurusan yang terlalu umum seperti manajemen atau hukum memiliki banyak peminat, sehingga jumlah lulusan juga tinggi. “Nah ini dunia usaha ternyata memerlukan, apa, segmen-segmen yang lebih spesifik seperti tadi administrasi kan umum, begitu. Administrasi Fiskal, laku keras. Aktuaria, itu kan gabungan dari manajemen dan matematik ya. Nah kalau kita bicara manajemen umum tapi bicara aktuaria itu beda acceptance-nya di pasar yang memerlukan tenaga-tenaga tadi,” jelasnya.