Jakarta - Proses mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan sering kali tidak berjalan mulus. Hal ini dialami oleh Pritta Novia Lora Damanik, yang mengalami penolakan sebanyak 19 kali sebelum akhirnya berhasil meraih beasiswa. Ia telah mengorbankan banyak hal, termasuk tenaga, mental, dan finansial, dalam usahanya untuk mendapatkan beasiswa tersebut.
Kisah Pritta menunjukkan bahwa perjuangan yang tak kenal lelah akan membuahkan hasil. Pada tahun 2023, ia akhirnya berhasil mendapatkan beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk melanjutkan pendidikan magister di bidang Education Policy and Society di King's College London.
Pritta mengenang kembali perjalanan panjangnya, dimulai dari penolakan pertamanya pada tahun 2015. Selama tujuh tahun, ia terus berjuang meskipun belum mendapatkan kesempatan. "Ketika saya membaca kembali setiap esai yang saya tulis dalam proses seleksi beasiswa, saya melihat bahwa ternyata saya selalu bertumbuh," ujarnya.
Setiap kali gagal mendapatkan beasiswa, Pritta merenungkan dan memperbaiki kekurangan yang ada. Ia sempat berhenti sejenak dalam pencariannya setelah menjadi penyintas gempa Palu, namun kemudian bangkit kembali dengan keyakinan bahwa jika terus berusaha, kesuksesan akan datang.
Pritta menyadari bahwa pendidikan yang ia jalani saat ini didanai oleh negara, sehingga ia berkomitmen untuk memanfaatkan kesempatan tersebut sebaik mungkin. "LPDP ini bagian dari uang kita, uang rakyat Indonesia. Maka pertanggungjawaban kita sebagai awardee adalah kepada rakyat Indonesia," tuturnya.
Selama menempuh pendidikan di London, Pritta tidak hanya mendapatkan pengetahuan akademik, tetapi juga memperluas perspektifnya mengenai sistem pendidikan dan kebijakan publik. "Kalau bukan dari beasiswa LPDP, belum tentu saya bisa berkembang sejauh ini," ungkap Pritta.
Pritta memiliki minat yang besar terhadap isu perlindungan anak. Sejak kecil, ia sudah terbiasa membaca berita dan majalah, yang membuatnya peka terhadap isu sosial. Setelah menyaksikan berbagai realitas, ia merasa banyak nilai masyarakat yang bertentangan dengan hak perlindungan anak, sehingga ia memantapkan diri untuk berkarier di bidang pembangunan sosial dan aktif dalam komunitas advokasi.
Setelah menyelesaikan studi S2, Pritta langsung kembali ke Indonesia dengan rasa tanggung jawab untuk menerapkan ilmunya. Ia semakin fokus pada bidang perlindungan anak dan aktif dalam organisasi nonpemerintah (NGO) baik di tingkat nasional maupun internasional. Saat ini, ia bekerja di sebuah NGO yang bermitra dengan pemerintah Indonesia, berperan dalam menjembatani kebijakan pemerintah dengan kebutuhan anak-anak di lapangan. "Bagi saya, salah satu sektor strategis untuk mengimplementasikan perlindungan anak adalah melalui pendidikan," ungkapnya.