Fakta Pendidikan

Stella: Lulusan Vokasi Lebih Mudah Mendapatkan Pekerjaan Dibandingkan Sarjana S1

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, menyatakan bahwa lulusan perguruan tinggi vokasi memiliki tingkat penyerapan kerja yang lebih tinggi daripada lulusan akademik S...

S
Stevani Nila Wardana
07 August 2026
33 pembaca
Wamendiktisaintek. Foto: YouTube/Kemdiktisaintek
Wamendiktisaintek. Foto: YouTube/Kemdiktisaintek

Jakarta - Stella Christie, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, mengungkapkan bahwa lulusan dari perguruan tinggi vokasi (diploma) memiliki tingkat penyerapan tenaga kerja yang lebih baik dibandingkan dengan lulusan perguruan tinggi akademik (sarjana). Hal ini berdasarkan hasil tracer study yang dilakukan dari tahun 2021 hingga 2024, yang menunjukkan bahwa penyerapan lulusan vokasi mencapai 77%, sementara lulusan perguruan tinggi akademik hanya 72%. "Jadi penyerapan ke tenaga kerja vokasi lebih tinggi dari pada lulusan akademik S1," ujar Stella dalam acara Talkshow Pionir Permadani yang berlangsung di Grha Sabha Pramana UGM pada Jumat (7/8/2026).

Peran Pendidikan Vokasi dalam Industri

Stella menekankan bahwa pendidikan vokasi saat ini memiliki peranan penting dalam memenuhi kebutuhan industri. Keberadaan lulusan vokasi menjadi salah satu alasan bagi industri dan investor untuk tetap beroperasi. "Perguruan tinggi vokasi paling utama perannya untuk merespon pasar kerja," jelasnya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa anggapan bahwa lulusan pendidikan vokasi sulit untuk diterima di dunia kerja adalah tidak benar. Menurutnya, lulusan vokasi justru berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. "Per hari ini, industri dan pasar membutuhkan tenaga kerja terampil yang siap kerja," tambahnya.

Contoh Keberhasilan Lulusan Vokasi di Negara Lain

Tidak hanya di Indonesia, Stella juga memberikan contoh mengenai penyerapan lulusan vokasi di negara lain, seperti Shenzhen Polytechnic University di Tiongkok. Di kampus tersebut, terdapat kerja sama dengan perusahaan-perusahaan besar seperti BYD dan Huawei. Peran lulusan vokasi di Shenzhen, Hong Kong, dan Guangzhou telah berkontribusi terhadap pendapatan yang mencapai 2,15 triliun USD, lebih besar dibandingkan dengan output ekonomi Indonesia yang sekitar 1,55 triliun USD. "Inilah mengapa saya sebut vokasi kunci masa depan Indonesia," tegas Stella. Di Eropa, seperti di Swiss dan Korea Selatan, lulusan vokasi bahkan dapat meraih gaji hingga 102.114 Swiss Franc atau setara dengan Rp2 miliar. "Karena mereka tahu perekonomian mereka tidak akan bisa maju tanpa vokasinya yang kuat," ungkapnya.

Untuk memperkuat lulusan vokasi, Kemdiktisaintek telah meluncurkan program yang berlandaskan pada tiga pilar, yaitu kurikulum yang sesuai dengan industri, pengajar yang berpengalaman di industri, dan infrastruktur yang mendukung. Salah satu bentuk program tersebut adalah kerja sama dengan LiuGong, sebuah perusahaan multinasional dari Tiongkok. Program ini telah memberikan beasiswa dan kesempatan magang bagi mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta.

detik.com Sumber: detik.com

Artikel Terkait