Fakta Nasional

Sungai Barito Mengering, Transportasi Air Terancam Terhenti

Fenomena penyusutan debit air Sungai Barito di Kalimantan Tengah akibat kemarau ekstrem berdampak serius pada sektor transportasi dan ekonomi regional. Kondisi ini menyebabkan kapal besar tidak dapat...

W
Wira Yudha
22 August 2026
33 pembaca
Sungai Barito Mengering, Bawah Jembatan Kalahien Bak Gurun Pasir (Dok. Istimewa)
Sungai Barito Mengering, Bawah Jembatan Kalahien Bak Gurun Pasir (Dok. Istimewa)

Jakarta - Sekretaris Utama BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa fenomena surutnya Sungai Barito di Kalimantan Tengah bukan hanya sekadar perubahan fisik, tetapi merupakan dampak nyata dari kemarau yang berkepanjangan dan rendahnya curah hujan. Menurut Guswanto, kondisi ini membawa konsekuensi yang signifikan bagi transportasi, logistik, dan perekonomian di wilayah tersebut.

Guswanto memberikan informasi terkini mengenai keadaan Sungai Barito. Dia mengungkapkan bahwa debit air di Muara Teweh mengalami penurunan drastis, dengan ketinggian air hanya mencapai sekitar 0,6 meter, padahal seharusnya berkisar antara 5 hingga 11,5 meter.

Transportasi Sungai Terhambat

“Akibatnya, transportasi sungai hampir lumpuh,” ungkapnya pada Jumat (21/8/2026). Guswanto juga menyebutkan bahwa hamparan pasir telah muncul di bawah Jembatan Kalahien, Barito Selatan, yang mengakibatkan gangguan pada transportasi. Kapal-kapal besar, tongkang pengangkut batu bara, minyak, dan kayu tidak dapat berlayar dengan normal. “Hanya perahu kecil seperti jukung yang masih bisa beroperasi terbatas,” tambahnya.

Penyebab dan Dampak Jangka Panjang

Guswanto menjelaskan bahwa beberapa faktor berkontribusi terhadap pengeringan Sungai Barito, termasuk kemarau panjang, rendahnya curah hujan, dan fenomena regional. “Fenomena ini sebagai dampak musim kemarau yang lebih kering dari biasanya. Hujan dengan intensitas tinggi sudah lama berakhir, dan hujan ringan yang turun tidak cukup menambah debit sungai,” jelasnya.

Dia juga menambahkan bahwa penurunan curah hujan di Kalimantan Tengah menyebabkan pasokan air dari hulu Pegunungan Schwaner berkurang drastis. “Kondisi serupa juga terjadi di sungai lain di Kalimantan, menandakan pola iklim yang lebih ekstrem,” ujarnya.

Guswanto mengingatkan akan adanya ancaman jangka panjang dari fenomena ini. Jika tren ini berlanjut, dapat mengurangi kontribusi sektor pertambangan dan perkebunan terhadap PDB daerah. “Ini adalah bagian dari siklus iklim yang lebih kering, dengan konsekuensi serius bagi transportasi, logistik, dan ekonomi regional,” katanya.

Sungai Barito di Kalimantan Tengah mengalami pengeringan, di mana debit air yang terus menyusut membuat beberapa bagian sungai mengalami pendangkalan, sehingga hamparan pasir dan daratan muncul di tengah aliran. Pemandangan yang tidak biasa ini terlihat di sekitar Jembatan Kalahien di Desa Kalahien, Kecamatan Dusun Selatan, Kabupaten Barito Selatan. Hamparan pasir yang terbentuk di tengah sungai membuat aliran terlihat terpecah, mirip dengan pantai.

Warga setempat, Rudi Hermansyah, menyatakan bahwa surutnya Sungai Barito terlihat cukup parah sejak awal Agustus. Dia menambahkan bahwa munculnya daratan di tengah sungai menjadi salah satu indikasi penurunan signifikan pada debit air. “Kondisi tersebut tidak hanya mengubah bentang alam sungai, tetapi juga mulai mengganggu aktivitas transportasi air. Sejumlah kapal pengangkut barang dan tongkang dilaporkan kesulitan melintasi bagian sungai yang dangkal,” kata Rudi.

Artikel Terkait