Jakarta - Gelar sarjana seringkali dianggap sebagai tiket untuk meraih pekerjaan yang lebih baik. Namun, anggapan ini mulai dipertanyakan. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), sekitar satu juta lulusan perguruan tinggi di Indonesia masih dalam pencarian pekerjaan. Prof Dr Bagong Suyanto, Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga (FISIP Unair), mengamati fenomena ini sebagai masalah yang berkaitan dengan tingkat pendidikan, kualitas pekerjaan, dan penghasilan.
Idealnya, peningkatan pendidikan harus sejalan dengan peningkatan kompetensi, kualitas pekerjaan, dan kesejahteraan. Namun, kenyataan di Indonesia belum menunjukkan pola tersebut. "Lulusan perguruan tinggi masih dapat menemukan pekerjaan yang tidak sejalan dengan pendidikan maupun kompetensi yang mereka miliki," ungkap sosiolog pendidikan ini dalam laman Unair yang dikutip pada Minggu (30/8/2026).
Penyebab Ketidaksesuaian Kompetensi
Prof Bagong menilai bahwa salah satu masalah utama terletak pada ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dan kebutuhan keterampilan di dunia kerja. Akibatnya, tidak semua lulusan dapat memenuhi tuntutan pekerjaan yang ada. "Gelar sarjana tidak lagi dapat menjadi jaminan seseorang untuk memperoleh pekerjaan dan meningkatkan taraf hidupnya," jelasnya.
Pentingnya Kualitas Pendidikan
Menurutnya, situasi ini tidak hanya berkaitan dengan kemampuan lulusan, tetapi juga dipengaruhi oleh arah pembangunan ekonomi yang menentukan seberapa banyak lapangan kerja yang tersedia. Oleh karena itu, Prof Bagong mendorong perlunya perubahan dalam orientasi pembangunan dengan lebih fokus pada pengembangan industri padat karya. Ia juga menekankan pentingnya kualitas pendidikan, menyatakan bahwa penambahan jumlah sarjana tidak akan berarti jika perguruan tinggi tidak dapat mempertanggungjawabkan kualitas lulusannya.
Pendidikan tinggi harus memastikan bahwa proses pembelajaran menghasilkan kompetensi yang relevan. Perkuliahan perlu membekali mahasiswa dengan kemampuan yang sesuai dan dapat beradaptasi dengan perubahan di pasar kerja. "Percuma lulusan sarjana banyak apabila kualitas perguruan tingginya tidak bisa dipertanggungjawabkan," tegasnya.