Fakta Nasional

Tiga Gempa Hebat Guncang NTT dan Sumut dalam Sehari, BMKG Berikan Penjelasan

Pada 15 Agustus, tiga gempa kuat melanda wilayah NTT, Simalungun, dan Parigi. BMKG menjelaskan bahwa ketiga gempa tersebut tidak saling berkorelasi.

D
Dila Rakasiwi
16 August 2026
34 pembaca
Ilustrasi Gempa (Getty Images/iStockphoto/Petrovich9)
Ilustrasi Gempa (Getty Images/iStockphoto/Petrovich9)

Jakarta - Pada tanggal 15 Agustus, terjadi tiga gempa kuat dalam satu hari yang mengguncang daerah Nusa Tenggara Timur (NTT), Simalungun, dan Parigi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan penjelasan bahwa ketiga gempa tersebut tidak memiliki hubungan langsung satu sama lain.

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menyatakan bahwa meskipun ketiga gempa terjadi secara bersamaan, mereka berasal dari sistem sumber dan tatanan tektonik yang berbeda. "Tidak ada korelasi langsung. Ketiga gempa yaitu NTT M 7,7 akibat Sesar Back Arc Thrust Flores, Simalungun M 6,4 akibat Subduksi Lempeng Indo-Australia, dan Parigi Moutong M 5,9 akibat Deformasi Dalam Lempeng Laut Sulawesi terjadi di 3 sistem sumber dan tatanan tektonik yang berbeda. Secara mekanis tidak saling memicu," ujarnya kepada wartawan pada hari Minggu (16/8/2026).

Rincian Setiap Gempa

Wijayanto juga menjelaskan bahwa ketiga gempa tersebut memiliki karakteristik dan sumber yang berbeda. Berikut adalah rincian masing-masing gempa:

  • NTT M 7,7: Gempa dangkal yang disebabkan oleh aktivitas Sesar Back Arc Thrust Flores dengan mekanisme naik atau thrust.
  • Simalungun M 6,4: Gempa dengan kedalaman menengah akibat subduksi Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia, bukan dari sesar darat, melainkan dari bidang penunjaman.
  • Parigi Moutong M 5,9: Gempa dangkal-menengah dengan kedalaman 60 km akibat deformasi kompresi intraplate di Teluk Tomini dengan mekanisme oblique thrust.

Fenomena Seismik di Indonesia

Lebih lanjut, Wijayanto mengungkapkan bahwa gempa di NTT memiliki banyak aftershock, sementara gempa Simalungun hingga saat ini belum menunjukkan adanya aftershock yang terdeteksi. Gempa Parigi Moutong juga belum mencatat aftershock. "Perbedaan jumlah aftershock ini juga menguatkan bahwa tiap gempa melepas energi sesuai karakteristik patahannya masing-masing," tambahnya.

Menurutnya, fenomena terjadinya tiga gempa dalam satu hari ini dapat dijelaskan sebagai klasterisasi seismik. "Kejadian berdekatan ini merupakan 'seismic clustering'. Indonesia punya banyak zona aktif sehingga wajar beberapa segmen melepas stres dalam waktu dekat, namun independen," ungkapnya.

Artikel Terkait