Jakarta - Insiden jebolnya Bendungan Banqiao merupakan salah satu momen kelam dalam sejarah masyarakat China. Diperkirakan sekitar 171 ribu jiwa melayang akibat tragedi ini. Berdasarkan laporan dari International Rivers Resource Hub, Bendungan Banqiao terletak di Provinsi Henan, China, dan insiden ini sering dianggap sebagai kegagalan struktural paling mematikan yang pernah terjadi di negara tersebut.
Peristiwa tragis ini bermula pada malam 8 Agustus 1975, ketika warga yang tinggal di hilir Bendungan Banqiao berjuang menghadapi badai yang sangat kuat. Mereka tidak menyangka bahwa badai tersebut akan berlangsung lama. Seiring waktu, debit air terus meningkat, dan warga mulai mendengar suara retakan yang berasal dari arah bendungan.
Gelombang Banjir yang Menghancurkan
Akibatnya, Bendungan Banqiao pun jebol, memicu luapan air yang setara dengan volume 280 ribu kolam renang ukuran Olimpiade. Luapan ini menciptakan gelombang pasang dengan kecepatan mencapai 50 km/jam yang menghancurkan desa-desa di sekitarnya. Namun, bencana ini tidak berhenti di situ. Selain Bendungan Banqiao, sebanyak 62 bendungan lainnya juga mengalami kerusakan akibat efek domino dari kejadian tersebut.
Secara total, jumlah korban jiwa akibat tragedi jebolnya Bendungan Banqiao pada tahun 1975 diperkirakan mencapai 171 ribu orang. Dari jumlah tersebut, sekitar 26 ribu orang meninggal dunia secara langsung akibat banjir, sementara sisanya meninggal karena kelaparan dan penyakit seperti kolera dan cacar yang merebak setelah bencana.
Peringatan yang Diabaikan
Bendungan Banqiao awalnya dianggap sangat kuat dan bahkan dijuluki 'Bendungan Besi' setelah diperkuat pada tahun 1950-an dengan spesifikasi dari Uni Soviet. Namun, seorang ahli hidrologi bernama Chen Xing pernah memperingatkan bahwa pembangunan bendungan yang berlebihan di kawasan tersebut dapat berbahaya. Ia merekomendasikan agar dipasang 12 pintu air untuk Bendungan Banqiao, namun hanya 5 yang dipasang, dan peringatan tersebut diabaikan.
Selama beberapa dekade, pemerintah China berusaha menutupi besarnya skala bencana ini. Sebagian besar masyarakat di luar Provinsi Henan tidak mengetahui kejadian tersebut hingga catatan sejarah dibuka pada tahun 2005, tepat 30 tahun setelah tragedi itu terjadi.