Hari wisuda menjadi momen yang sangat membahagiakan bagi Yesita Vera Saraswati, yang baru saja meraih gelar doktor dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Di usia 27 tahun, Yesita menjadi wisudawan doktor termuda di UGM, sementara rata-rata usia lulusan doktor pada periode yang sama adalah sekitar 42 tahun.
"Rasanya luar biasa. Ada perasaan lega ketika segala sesuatu yang dulunya terasa sangat berat akhirnya terbayar setelah lulus," ungkapnya dalam sebuah pernyataan yang dilansir dari laman UGM.
Pencapaian Akademis yang Mengagumkan
Yesita berhasil menyelesaikan studinya dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,99, yang menunjukkan prestasi luar biasa dalam program doktor Ilmu Peternakan. Ia mengakui bahwa perjalanan untuk meraih gelar ini penuh tantangan, termasuk pengorbanan tenaga, biaya, emosi, dan waktu. Selama menyelesaikan tugas akhir, Yesita juga harus mengelola 70-80 mahasiswa S1 dan S2 yang melakukan penelitian bersamanya.
"Dinamikanya tidak hanya pada diri saya sendiri, tetapi bagaimana saya melakukan manajerial tim dari berbagai laboratorium, sementara di sisi lain saya juga harus tetap menyusun disertasi untuk keperluan studi pribadi saya," tuturnya.
Program PMDSU dan Penelitian
Salah satu faktor yang memungkinkan Yesita lulus di usia muda adalah partisipasinya dalam program Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU). Meskipun tidak pernah terpikir sebelumnya, ia akhirnya melanjutkan pendidikan S2 dan S3 melalui program ini di Fakultas Peternakan UGM.
Disertasinya yang berjudul "Studi Karakteristik Eksterior dan Genetik Ayam Lokal dan Persilangannya" mengantarkannya meraih gelar S3. Dalam penelitiannya, Yesita fokus pada pembentukan galur ayam lokal baru dan mengkaji potensi genetik ayam-ayam lokal di Indonesia.
"Jadi kami berusaha untuk melakukan perbaikan mutu genetik ayam lokal melalui persilangan dan seleksi sampai saat ini sudah mencapai generasi kelima," jelasnya.
Selama menjalani penelitian, Yesita menghadapi berbagai tantangan, termasuk melakukan trial dan error dalam proses persilangan ayam. "Jadi saya bisa belajar bagaimana memanajemen waktu sekaligus orang-orang yang bergabung di dalam tim, sembari juga tetap menjalin relasi dan mencari pendanaan dan sebagainya," ungkapnya.
Selain fokus pada studi, Yesita juga aktif dalam kegiatan sosial dan organisasi kampus, termasuk kesenian dan publikasi. "Bagi saya, di samping studi, kita harus tetap menjalin relasi sosial yang baik dengan orang lain dan menyeimbangkan kesenangan agar hidup tetap seimbang," tuturnya.
Yesita berharap dapat menjadi dosen di masa depan, sebuah cita-cita yang telah ada sejak ia masih di bangku SMA. "Bagi saya, pembelajaran tidak akan pernah putus meskipun sudah menyelesaikan jenjang S3," tutupnya.