Jakarta, CNN Indonesia -- Pegiat media sosial Ade Armando mengungkapkan bahwa terdapat individu di internal Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang menilai kehadirannya mengganggu proses rebranding partai setelah kongres di Solo beberapa waktu lalu. Ade telah secara resmi mengundurkan diri dari keanggotaan PSI pada tanggal 5 Mei dalam sebuah konferensi pers di kantor DPP PSI, Jakarta. Keputusan tersebut diambil setelah ia dilaporkan oleh beberapa organisasi masyarakat terkait dugaan penghapusan pasca kritiknya terhadap pidato Jusuf Kalla di Universitas Gadjah Mada.
Desakan untuk Mundur
Ade menyatakan, "Saya sudah dengar ya suara-suara di PSI yang mengatakan bahwa saya harus diberhentikan. Saya itu sosok yang jadinya mengganggu rebranding-nya PSI." Ia menambahkan bahwa keberadaannya di PSI saat ini membuat partai dengan logo baru Gajah tersebut sulit diterima oleh pemilih Muslim. Ia merasa telah mendengar bisikan bahwa dirinya tidak lagi diterima di dalam partai.
Walaupun demikian, Ade mengungkapkan bahwa hingga saat ini belum ada pihak yang secara langsung meminta agar ia keluar dari PSI. "Nah itu dikatakan bahwa saya sebaiknya tidak lagi berada di PSI. Itu saya sudah dengar walaupun belum ada orang yang ngomong langsung ke saya," ujarnya.
Kasus Hukum dan Dampaknya
Menurut Ade, permasalahan hukum yang dihadapinya saat ini menjadi puncak masalah yang mendorongnya untuk mundur dari partai, karena dianggap dapat menghambat PSI dalam meraih suara dari pemilih Islam. "Saya tidak ingin menyalahkan. Tapi ketika itu, PSI sendiri tidak mendukung saya jadinya. Karena tadi saya katakan, saya sudah dengar ada kalimat-kalimat Ade Armando mengganggu sekali, udah dilepasin aja," jelasnya.
Ketua DPP PSI Bidang Politik, Bestari Barus, tidak membantah pernyataan Ade mengenai desakan agar ia keluar dari partai. Namun, Bestari menegaskan bahwa sebagai mantan kader, pernyataan Ade telah melampaui batas dalam urusan internal partai. "Kami menilai Ade Armando sudah terlalu jauh masuk ke ruang yang dia tidak berkewenangan dan dia tidak kompeten," ungkap Bestari saat dihubungi pada Rabu (13/5).