Jakarta - Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang di Bekasi kembali menarik perhatian global. Pada tahun 2025, lokasi ini tercatat sebagai penghasil emisi gas metana terbesar kedua di dunia, hanya kalah dari TPA Campo de Mayo di Argentina. Temuan ini dipublikasikan oleh UCLA Emmett Institute melalui proyek STOP Methane pada April 2026, yang menunjukkan bahwa Bantargebang memproduksi lebih dari enam ton emisi metana setiap jam.
Urgensi Perubahan Pengelolaan Sampah
Menanggapi temuan tersebut, Hardiyanto Kenneth, anggota DPRD DKI Jakarta, menekankan bahwa isu metana di Bantargebang harus menjadi titik awal untuk melakukan perubahan menyeluruh dalam sistem pengelolaan sampah oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Kenneth menyatakan bahwa alih-alih hanya menangani masalah di hilir, kebijakan pengurangan sampah harus lebih fokus pada sumbernya. "Sudah saatnya Jakarta melakukan revolusi pengelolaan sampah berbasis pengurangan dari sumber, pemilahan rumah tangga, penguatan daur ulang, hingga pemanfaatan teknologi pengolahan modern yang ramah lingkungan," ungkapnya dalam pernyataan pada Sabtu (16/5/2026).
Aspek Ilmiah di Balik Emisi Metana
Pakar biorefinery limbah hayati dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Hanifrahmawan Sudibyo, menjelaskan bahwa fenomena ini disebabkan oleh proses alami pembusukan sampah organik. Dalam penjelasannya, Hanif menyatakan bahwa di balik tumpukan sampah yang lembap dan padat, terbentuklah lingkungan dengan sedikit oksigen atau zona anaerob. "Kondisi lembap dan terbatasnya suplai oksigen menjadi lingkungan yang ideal bagi mikroorganisme penghasil metana," jelasnya. Mikroorganisme yang dikenal sebagai arkea metanogenik berperan aktif dalam memproses limbah organik dan melepaskan gas metana ke atmosfer. Meskipun metana merupakan bagian dari siklus karbon, konsentrasinya yang tinggi di TPA menjadi ancaman bagi iklim. Hanif mengingatkan bahwa potensi pemanasan global dari metana jauh lebih kuat dibandingkan karbon dioksida (CO2) dalam jangka waktu tertentu, sehingga ini menjadi isu penting dalam pengendalian gas rumah kaca.
Peluang Pemanfaatan Energi dari Metana
Walaupun gas metana dari Bantargebang terlihat sebagai ancaman, sebenarnya ada potensi besar jika dikelola dengan teknologi yang tepat. Menurut Hanif, emisi tersebut dapat dimanfaatkan melalui sistem penangkapan metana atau methane capture. Teknologi ini berfungsi dengan menanam jaringan pipa di dalam tumpukan sampah untuk menangkap gas sebelum terlepas ke udara. "Gas yang terkumpul kemudian dapat dimurnikan dan digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik berbasis biogas," tuturnya. Namun, untuk mencapai keberhasilan ini, diperlukan kebijakan pemerintah yang mendukung, kesadaran masyarakat untuk memilah sampah, serta kesiapan sektor energi seperti PLN agar pemanfaatan biogas dapat optimal secara nasional.
Perhatian Global terhadap Emisi Metana
Sebelumnya, emisi metana sering dianggap sebagai 'polutan tersembunyi' karena tidak terlihat. Namun, laporan dari UCLA Emmett Institute menunjukkan bahwa teknologi luar angkasa, seperti satelit Tanager-1 dan instrumen EMIT milik NASA, kini mampu memetakan lebih dari 2.900 semburan emisi metana di 707 lokasi di seluruh dunia. Cara Horowitz, Direktur Eksekutif UCLA Emmett Institute, menyatakan bahwa kecanggihan satelit ini merupakan langkah maju dalam perlindungan lingkungan. "Metana selama bertahun-tahun menjadi gas polutan tersembunyi. Namun, sekarang kita bisa melihat emisi yang sangat besar ini menggunakan satelit dan menjadikannya sebagai alarm peringatan bagi dunia," ungkapnya. Mengingat lokasi pembuangan sampah besar seperti Bantargebang sering kali berdekatan dengan permukiman padat, temuan ini menjadi pengingat mendesak bagi pemerintah dan pengelola TPA untuk segera mengambil langkah-langkah praktis demi mengurangi risiko kesehatan masyarakat dan dampak negatif bagi lingkungan.