Jakarta - Dalam konteks sengketa wilayah yang sering terjadi di perbatasan antar negara, Bir Tawil muncul sebagai sebuah fenomena unik. Terletak di antara Mesir dan Sudan, wilayah ini tidak diklaim oleh negara manapun, meskipun memiliki sejarah yang panjang dan kompleks.
Bir Tawil merupakan area gurun yang berbentuk segi empat kecil dan dikenal sebagai tempat kosong. Jurnalis Jonn Elledge, yang mengunjungi wilayah ini, menyatakan bahwa "Sejauh ini, Bir Tawil adalah tempat yang kosong," seperti yang dikutip dari IFL Science.
Alasan Bir Tawil Tidak Diklaim Negara Manapun
Salah satu alasan utama mengapa Bir Tawil tidak memiliki klaim dari negara manapun adalah karena lokasinya yang sulit diakses. Terletak jauh dari jalur transportasi utama, wilayah ini dikelilingi oleh pegunungan dan batuan, dengan suhu yang sangat panas dan tanpa adanya jalan atau penunjuk arah yang jelas. Selain itu, Bir Tawil tidak memiliki pemerintahan, sehingga tidak ada hukum, toko, hotel, sinyal telepon, atau penduduk di kawasan tersebut.
Meskipun tidak ada pemerintahan yang mengatur, Elledge mencatat bahwa terdapat banyak bendera yang dipasang oleh individu-individu yang mengklaim kepemilikan Bir Tawil, meski klaim tersebut tidak diakui oleh PBB. "Bir Tawil bukanlah tanah tak bertuan. Justru, wilayah ini sudah banyak sekali diklaim," ungkap Elledge. Setidaknya sembilan orang telah mengklaim Bir Tawil selama bertahun-tahun, meskipun tidak ada yang pernah menginjakkan kaki di sana. Salah satu pengklaim tersebut adalah Jeremiah Heaton, seorang petani asal Virginia, yang pada tahun 2014 mendeklarasikan wilayah itu sebagai Kerajaan Sudang Utara dengan dirinya sebagai raja, demi mewujudkan impian putrinya untuk menjadi seorang putri sejati. Namun, tindakan ini memicu kemarahan suku Ababda yang telah mendiami wilayah tersebut selama berabad-abad, yang menganggap klaim Heaton sebagai penghinaan.
Dean Karalekas, seorang peneliti dari Pusat Studi Austronesia Universitas Lancasire, menilai bahwa bendera-bendera yang ada di Bir Tawil mencerminkan ambisi neo-imperialistik yang rendah. "Tak satu pun (para pengklaim daring) pernah benar-benar menginjakan kaki di Bir Tawil, sehingga klaim kedaulatan mereka menjadi tidak berharga," jelasnya.
Sejarah Pertumpahan Darah dan Kekacauan Administrasi
Sejarah Bir Tawil juga menjadi faktor penting mengapa wilayah ini tidak diklaim oleh negara mana pun. Wilayah ini pernah menjadi pos terpencil bagi berbagai kekaisaran, termasuk Mesir, Nubia, Ottoman, dan Inggris. Pada tahun 1899, Inggris menjalin koloni rahasia dengan Mesir yang berujung pada Perang Mahdist melawan Sudan, yang berlangsung selama dua dekade dan berakhir dengan kekalahan Sudan. Setelah pertempuran tersebut, Sudan berada di bawah kendali Inggris-Mesir, dan perbatasan antara kedua negara ditetapkan melalui Perjanjian Kondominium Anglo-Mesir.
Namun, pada tahun 1902, Inggris menarik batas administratif yang baru, yang justru menempatkan Bir Tawil sebagai bagian dari Mesir, sementara suku Ababda menggunakan lahan tersebut untuk menggembalakan hewan ternak mereka. Di sisi lain, terdapat wilayah lain yang dikenal sebagai Segitiga Hala'ib, yang berada di bawah kendali gubernur Inggris di Sudan. Ketika Sudan meraih kemerdekaan, mereka mengklaim Segitiga Hala'ib, tetapi Mesir membantah klaim tersebut dengan menyatakan bahwa batas administratif tahun 1902 bersifat sementara.
Hingga saat ini, Mesir dan Sudan belum menemukan solusi untuk sengketa perbatasan mereka. Keduanya enggan mengklaim Bir Tawil, karena untuk melakukannya, salah satu negara harus menyerahkan Hala'ib kepada negara lainnya. "Keduanya menginginkan Hala'ib, dan karena itu keduanya harus melepaskan Bir Tawil, sehingga menyisakan sepetak kecil gurun sebagai satu-satunya tempat di Bumi di luar Antartika yang tidak diklaim oleh negara mana pun," tutup IFL Science.