Fakta Politik

Cak Imin Soroti Kurangnya Sikap Kritis Akademisi di Birokrasi

Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar, mengkritik akademisi yang kehilangan sikap kritis setelah memasuki dunia birokrasi. Ia menegaskan pentingnya keberanian untuk men...

W
Wira Yudha
04 July 2026
47 pembaca
Menko Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)
Menko Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)

Jakarta, CNN Indonesia -- Muhaimin Iskandar, yang akrab disapa Cak Imin, mengungkapkan keprihatinannya terhadap sikap akademisi yang dianggap tidak lagi kritis setelah beralih menjadi birokrat. Ia menilai banyak akademisi yang mengorbankan prinsip kritis mereka demi menyesuaikan diri dengan kepentingan atasan.

"Tidak berani ngomong 'qulil haqqo walau kana murran' [Katakanlah kebenaran, meskipun itu pahit], tidak berani bilang, 'Pak, jangan begini. Kalau begini, gagal.' Begitu jadi birokrat malah ABS--asal bapak senang. Itu tidak bisa," ujar Cak Imin dalam pernyataannya pada hari Jumat (3/7).

Akademisi yang Lupa Prinsip

Cak Imin menyebutkan bahwa terdapat guru besar yang sangat disiplin dalam mengajar di perguruan tinggi, namun ketika menjabat sebagai birokrat, ia tampak melupakan prinsip tersebut. Menurutnya, seorang birokrat seharusnya tetap berpegang pada prinsip untuk selalu menyampaikan kebenaran, meskipun itu mungkin tidak menyenangkan.

Ia juga mengajak perguruan tinggi untuk berperan aktif dalam mengawasi kebijakan publik. Cak Imin menekankan bahwa kampus tidak hanya bertugas menghasilkan riset dan inovasi, tetapi juga harus memastikan setiap kebijakan yang diambil sesuai dengan kaidah akademik, sehingga dapat menjawab tantangan pembangunan yang ada.

Bahaya Budaya 'Asal Bapak Senang'

Lebih lanjut, Cak Imin mengingatkan akan risiko budaya 'Asal Bapak Senang' (ABS) yang berkembang di kalangan birokrat. Ia berpendapat bahwa budaya ini dapat menghalangi terciptanya kebijakan yang berkualitas. Menurutnya, seorang pemimpin justru membutuhkan masukan yang jujur dan berbasis fakta untuk mengambil keputusan yang tepat.

"Harus menyampaikan apa adanya. Pimpinan justru lebih senang kalau diingatkan apa adanya," ungkapnya.

Artikel Terkait