Jakarta - Di zaman sekarang, keberadaan gadget menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua. Anak-anak cenderung lebih memilih menghabiskan waktu dengan perangkat yang menawarkan berbagai permainan atau hiburan, seperti smartphone dan tablet. Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa anak-anak yang sering menggunakan perangkat ini mengalami kemunduran dalam kemampuan komunikasi dan interaksi sosial.
Risiko Penggunaan Gadget yang Berlebihan
Orang tua sering memberikan gadget kepada anak sebagai cara untuk menenangkan mereka atau sebagai sarana hiburan. Namun, dampak negatif yang ditimbulkan ternyata cukup signifikan. Sebuah studi yang dilakukan oleh Florida Atlantic University (FAU) dan Aarhus University menunjukkan bahwa penggunaan gadget yang berlebihan dapat menyebabkan keterlambatan dalam perkembangan bahasa anak. Selain itu, anak-anak juga berisiko mengalami kesulitan perilaku dan emosional di masa depan, termasuk lebih rentan terhadap tantrum.
Dalam penelitian yang melibatkan 546 anak berusia 4 hingga 5 tahun di Denmark, ditemukan bahwa hanya dengan 10-30 menit penggunaan gadget tanpa pengawasan, anak-anak sudah berisiko mengalami masalah dalam berkomunikasi. Peneliti menjelaskan bahwa gadget mengurangi kesempatan anak untuk berinteraksi dan menjelajahi lingkungan sekitar mereka.
"Waktu luang yang dihabiskan sendirian dengan perangkat HP menggantikan kesempatan untuk membangun keterampilan bahasa, sosial, dan emosional melalui interaksi nyata," kata penulis studi Brett Laursen.
Pentingnya Interaksi Langsung bagi Anak
Para peneliti menekankan bahwa anak-anak di usia dini perlu belajar bahasa terutama melalui interaksi langsung. Meskipun layar gadget dapat menampilkan kata-kata dan cerita, mereka tidak dapat memberikan respons terhadap kebingungan anak secara langsung seperti yang bisa dilakukan oleh pengasuh atau teman bermain. Selain itu, bermain secara langsung memberikan anak kesempatan untuk mengembangkan keterampilan sosial dan emosional, seperti bergiliran, menyepakati aturan, menyelesaikan konflik, serta membaca ekspresi wajah.
"Anak-anak kecil dengan keterampilan bahasa yang terbatas sudah berisiko menghadapi tantangan sosial dan emosional," ungkap Molly Selover, peneliti utama dari FAU. Menurutnya, tidak ada alasan untuk berharap bahwa gadget dapat membantu anak mengatasi masalah komunikasi. Sebaliknya, terlalu banyak waktu yang dihabiskan sendirian dengan layar justru dapat memperburuk keadaan.
Rekomendasi Penggunaan Gadget yang Sehat
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan agar anak usia 2-5 tahun hanya menghabiskan waktu maksimal satu jam per hari untuk menatap layar. Namun, survei global menunjukkan bahwa dua pertiga rumah tangga melebihi batas waktu tersebut. Di Amerika Serikat, sekitar setengah anak di bawah usia lima tahun menghabiskan lebih dari dua jam per hari di depan layar.
Para peneliti menekankan pentingnya konten dan pengawasan dalam penggunaan gadget. Waktu layar yang didampingi oleh orang tua atau guru dapat mendukung perkembangan anak, sedangkan penggunaan gadget secara mandiri cenderung mengarahkan anak pada konten yang cepat dan merangsang, yang kurang mendukung kemampuan sosial mereka. Peneliti juga tidak merekomendasikan pelarangan total terhadap gadget. Sebaliknya, mereka mendorong orang tua untuk menonton bersama, memilih konten yang sesuai dengan usia, dan memastikan anak tetap memiliki waktu untuk berinteraksi dan bermain dengan teman sebaya.