Fakta Pendidikan

Dampak Kehilangan Matahari Terhadap Bumi dan Kehidupan

Kamis, 14 Mei 2026, 12:28 WIB 12 views 3 menit baca
Dampak Kehilangan Matahari Terhadap Bumi dan Kehidupan
Foto: Getty Images/iStockphoto/egal/Ilustrasi matahari dan bumi.
Bagikan:

Matahari telah berperan penting bagi Bumi selama miliaran tahun. Namun, apa yang akan terjadi jika Matahari menghilang secara mendadak? Timothy Cronin, seorang profesor madya ilmu atmosfer di Massachusetts Institute of Technology (MIT), menjelaskan bahwa jika Matahari tiba-tiba lenyap, kehidupan di Bumi akan terancam. Menariknya, hilangnya Matahari mungkin tidak akan disadari dalam beberapa menit pertama.

Setidaknya selama 8 menit 20 detik, manusia tidak akan menyadari bahwa Matahari telah hilang, karena itulah waktu yang dibutuhkan cahaya dari Matahari untuk sampai ke Bumi. Dalam periode tersebut, hampir dipastikan tidak ada yang menyadari adanya perubahan.

Menit-menit Awal: Kegelapan Total

Setelah kehilangan Matahari, Bumi akan mengalami kegelapan total secara mendadak. Dalam situasi ini, manusia hanya dapat bergantung pada sumber penerangan buatan seperti listrik, minyak, gas, atau api untuk bertahan hidup. Akibatnya, manusia tidak akan mampu membedakan antara siang dan malam. Bulan, yang biasanya memantulkan cahaya Matahari, juga akan tampak gelap sepenuhnya, meskipun bintang-bintang masih terlihat di langit.

24 Jam Pertama: Suhu Bumi Turun Drastis

Jika Matahari menghilang, suhu Bumi tidak akan langsung membeku, tetapi akan mengalami penurunan yang sangat cepat. Dalam 24 jam pertama, suhu diperkirakan turun sekitar 20 derajat Celsius. Penurunan suhu ini akan menyebabkan hampir seluruh wilayah Bumi mencapai suhu di bawah titik beku hanya dalam dua hingga tiga hari. Dalam kondisi ini, air di permukaan Bumi akan mulai membeku secara bertahap. Kolam kecil bisa membeku dalam waktu sekitar satu minggu, sedangkan danau memerlukan waktu lebih lama. Namun, lautan dapat tetap dalam keadaan cair selama bertahun-tahun karena volume airnya yang besar. Meskipun suhu Bumi akan sangat dingin, tidak akan pernah mencapai titik nol mutlak karena adanya sisa panas dari peristiwa Big Bang yang terjadi sekitar 13,8 miliar tahun lalu.

Tanpa sinar Matahari, proses penting seperti fotosintesis akan terhenti. Michael Summers, seorang profesor ilmu planet dan astronomi di Universitas George Mason, menyatakan, "Organisme fotosintetik akan musnah."

Peradaban Manusia dan Kemungkinan Bertahan

Menurut Cronin, dalam suhu ekstrem, manusia mungkin akan berusaha berinovasi dan beradaptasi. Namun, keruntuhan peradaban tetap tidak dapat dihindari meskipun ada beberapa yang dapat bertahan. "Mungkin saja manusia dapat bertahan hidup di bawah tanah di dalam gua, ditopang oleh energi panas bumi atau nuklir, dengan tanaman yang ditanam di bawah penerangan buatan," ujarnya. "Tetapi ini akan menjadi peristiwa kepunahan yang membuat semua peristiwa kepunahan lainnya tampak kecil," tambahnya.

Apakah Ada yang Bisa Selamat?

Jawabannya adalah ada. Menurut ilmuwan, hewan kecil yang dikenal sebagai tardigrada dapat bertahan dalam kondisi ekstrem. Mereka bahkan mampu bertahan meskipun terpapar radiasi atau direndam dalam alkohol tertentu. "Mereka adalah salah satu bentuk kehidupan terkuat di Bumi," kata Summers. Selain itu, bakteri yang hidup di sekitar lubang hidrotermal laut dalam juga kemungkinan akan bertahan, karena mikroba tertentu tidak memerlukan fotosintesis.

Meskipun dampak hilangnya Matahari sangat mengerikan, para ilmuwan memperkirakan bahwa Matahari akan terus memproduksi panas dan cahaya selama sekitar 5 miliar tahun lagi. Ketika 'bahan bakarnya' habis, Matahari akan menelan Merkurius dan Venus, serta mungkin Bumi. "Meskipun dampak-dampak tersebut mungkin masih jauh pada masa depan," ungkap Summers.

P

Penulis

Panca Akbar Saputra

Penulis di Nalar Fakta

Sumber: detik.com detik.com

Berita Terkait