Fakta Pendidikan

Dosen Unesa Ubah Limbah Daun Nanas Menjadi Bahan Tekstil Ramah Lingkungan

Inty Nahari, seorang dosen dari Universitas Negeri Surabaya, berhasil mengolah limbah daun nanas menjadi bahan tekstil yang ramah lingkungan, menunjukkan potensi besar dari material lokal.

N
Naufal Akbar
30 July 2026
39 pembaca
Inty Nahari, dosen Universitas Negeri Surabaya (Unesa). (Foto: Laman Resmi Unesa)
Inty Nahari, dosen Universitas Negeri Surabaya (Unesa). (Foto: Laman Resmi Unesa)

Inty Nahari, pengajar di Program Magister Industri Kreatif Fakultas Vokasi Universitas Negeri Surabaya (Unesa), telah berhasil mengembangkan limbah daun nanas menjadi bahan tekstil yang ramah lingkungan. Proses inovatif ini berawal dari pengamatannya terhadap daun nanas yang sering kali menjadi limbah setelah buahnya dipanen. Ia menemukan bahwa daun nanas menyimpan potensi sebagai material yang berkelanjutan dalam industri kreatif.

Riset dan Karya Tekstil Barik

Pandangan ini menjadi dasar bagi riset yang menghasilkan karya tekstil yang dinamakan Barik. Menurut Inty, riset ini tidak hanya bertujuan untuk menciptakan sebuah karya seni, tetapi juga untuk menunjukkan bahwa material lokal Indonesia memiliki kemampuan untuk memanfaatkan limbah pertanian dan mendukung keberlanjutan.

Nama Barik berasal dari bahasa Jawa yang berarti garis. Bagi Inty, garis ini bukan hanya sekadar unsur visual, tetapi juga melambangkan jejak lingkungan di mana tanaman tersebut tumbuh. Ia berusaha mempertahankan keberagaman tekstur, warna, dan ketebalan setiap serat, yang kemudian dipadukan dengan teknik tenun kluwung.

Pameran dan Potensi Global

Inty memamerkan karya tekstil Barik dalam pameran seni internasional "Becoming: Prakriti-Pustaka-Padma" yang diadakan di Agung Rai Museum of Art (ARMA) di Bali. Ia menyatakan bahwa tekstil Barik yang berasal dari lingkungan lokal ini mampu berkontribusi dalam diskusi global.

"Serat daun nanas dari kawasan Kelud merupakan material yang sangat lokal, tetapi dapat membicarakan isu yang sedang menjadi perhatian dunia, seperti keberlanjutan, limbah pertanian, hubungan manusia dengan alam, serta perlunya menghargai kembali pengetahuan tradisional," terangnya.

Hasil penelitian ini membuka peluang yang lebih luas untuk pengembangan produk, mulai dari aksesori, elemen interior, hingga produk kriya. Di masa depan, Inty berencana untuk memperluas jejaring riset mengenai serat alam Indonesia dan mengembangkan pusat dokumentasi serta laboratorium yang mempelajari karakter material, teknik pengolahan, dan peluang hilirisasinya.

detik.com Sumber: detik.com

Artikel Terkait