Fakta Pendidikan

Kekurangan Talenta STEM di Indonesia: Posisi di Peringkat Global

Indonesia menghadapi tantangan serius dalam kekurangan talenta di bidang sains, teknologi, rekayasa, dan matematika (STEM). Data terbaru menunjukkan bahwa persentase lulusan STEM di Indonesia masih ja...

P
Panca Akbar Saputra
23 June 2026
27 pembaca
Ilustrasi lulusan RI. Foto: iStock
Ilustrasi lulusan RI. Foto: iStock

Jakarta - Isu mengenai kekurangan talenta di bidang sains, teknologi, rekayasa, dan matematika (STEM) di Indonesia kembali menjadi sorotan. Hal ini diungkapkan dalam acara di SMAN Unggulan MH Thamrin, yang merupakan bagian dari Sekolah Garuda Transformasi, sebuah inisiatif dalam Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) yang diprakarsai oleh Presiden Prabowo Subianto untuk meningkatkan pembangunan sumber daya manusia dan ekosistem sains serta teknologi di Indonesia. Sekolah Garuda bertujuan untuk mempersiapkan lulusannya agar dapat melanjutkan pendidikan tinggi di universitas terkemuka baik di dalam maupun luar negeri.

Persiapan Talenta STEM di Sekolah Garuda

Direktur Strategi dan Sistem Pembelajaran Transformatif (SSPT) Kemdiktisaintek, Ardi Findyartini, menjelaskan bahwa di SMA Unggul Garuda, pengembangan talenta STEM dilakukan tanpa mengabaikan pentingnya ilmu sosial dan humaniora. Ia menekankan bahwa ilmu sosial humaniora sangat penting untuk memastikan bahwa penerapan dan hilirisasi temuan di bidang sains dan teknologi dapat memberikan dampak yang nyata dan diterima oleh masyarakat. "Meskipun memang saat ini kita perlu akui bahwa memang kita kekurangan talenta di bidang STEM. Di berbagai negara maju itu talenta STEM-nya sudah di atas 30-40 persen, kita masih kurang dari 20 persen, jadi kita perlu push ke sana tapi bukan berarti kita menomorduakan yang sosial," ungkapnya di SMA Negeri Unggulan MH Thamrin Jakarta, pada Senin (22/6/2026).

Data Persentase Lulusan STEM di Berbagai Negara

Menurut data dari UNESCO Institute for Statistic (UIS), persentase talenta STEM di Indonesia pada tahun 2018 tercatat sebesar 19,42 persen. Sementara itu, berikut adalah persentase lulusan STEM di beberapa negara berdasarkan data terbaru:

  • Brunei Darussalam: 35,86 persen (2023)
  • Kamboja: 23,20 persen (2019)
  • Kanada: 25,13 persen (2023)
  • Finlandia: 29,25 persen (2023)
  • Prancis: 24,55 persen (2023)
  • Jerman: 35,76 persen (2024)
  • India: 27,09 persen (2023)
  • Indonesia: 19,42 persen (2018)
  • Italia: 23,35 persen (2023)
  • Malaysia: 35,08 persen (2024)
  • Myanmar: 33,67 persen (2018)
  • Rusia: 31,36 persen (2019)
  • Thailand: 30,50 persen (2025)
  • Tunisia: 37,93 persen (2023)
  • Turki: 17,44 persen (2023)
  • Uni Emirat Arab: 36,45 persen (2024)
  • UK: 22,83 persen (2023)
  • Amerika Serikat: 21,77 persen (2023)
  • Vietnam: 22,68 persen (2016)

Data ini menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah yang besar dalam meningkatkan jumlah lulusan di bidang STEM agar dapat bersaing di tingkat global.

Negara dengan Lulusan STEM Terbanyak

Menurut analisis yang dilakukan oleh Center for Security and Emerging Technology (CSET) di Georgetown University, pada tahun 2020, negara-negara dengan jumlah lulusan STEM terbanyak adalah sebagai berikut:

  • China: 3,57 juta
  • India: 2,55 juta
  • Amerika Serikat: 820 ribu
  • Rusia: 520 ribu
  • Indonesia: 300 ribu
  • Brasil: 238 ribu
  • Meksiko: 221 ribu
  • Prancis: 220 ribu
  • Jerman: 216 ribu
  • Iran: 211 ribu
  • Jepang: 192 ribu

Dalam hal persentase lulusan STEM dari total lulusan pendidikan tinggi pada tahun 2020, China masih memimpin dengan persentase 41 persen, diikuti oleh Rusia dan Jerman. Indonesia berada di posisi 20 persen, menunjukkan bahwa masih ada banyak ruang untuk perbaikan dalam pengembangan talenta STEM di tanah air.

detik.com Sumber: detik.com

Artikel Terkait