Fakta Pendidikan

Kisah Inspiratif Made, Putra Bali yang Meraih Gelar Doktor UGM dalam Waktu Singkat

I Made Sarmita, seorang pria asal Bali, berhasil menyelesaikan program doktor di Universitas Gadjah Mada dengan IPK sempurna 4,00 dalam waktu kurang dari tiga tahun. Pencapaian ini menjadi bukti bahwa...

D
Dila Rakasiwi
30 July 2026
32 pembaca
I Made Sarmita, lulusan doktor terbaik UGM. Foto: UGM
I Made Sarmita, lulusan doktor terbaik UGM. Foto: UGM

Jakarta - Jarak dan kendala ekonomi sering kali menjadi penghalang dalam mengejar pendidikan tinggi. Namun, I Made Sarmita, seorang pria dari Kabupaten Badung, Bali, berhasil menembus batasan tersebut dengan menjadi salah satu wisudawan terbaik pada program doktor di Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna yaitu 4,00 dan menyelesaikan Program Studi Doktor Kependudukan di Sekolah Pascasarjana (SPs) UGM dalam waktu 2 tahun 10 bulan, sementara umumnya pendidikan doktor berlangsung selama 4 tahun.

Made mengaku tidak menyangka bisa mencapai prestasi tersebut. Ia menyatakan bahwa pencapaian ini merupakan hasil dari kesungguhan dan dukungan yang ia terima. "Teriring dengan doa dan dukungan semua pihak, baik keluarga, dosen promotor dan ko-promotor, serta kolega yang lain," ujarnya.

Perjalanan Akademik dari Bali ke Yogyakarta

Made memulai perjalanan akademiknya di Bali, di mana ia menyelesaikan pendidikan S1 di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Bali pada tahun 2006 hingga 2010. Ketertarikan pada isu kependudukan membawanya ke Yogyakarta untuk melanjutkan studi S2 di UGM. Ia kemudian melanjutkan ke jenjang S3 pada program yang sama. "Saya memilih S3 Kependudukan karena linier dengan S2 saya sebelumnya, dan juga masih linier dengan studi S1," jelasnya.

Selama menempuh pendidikan, Made mendapatkan beasiswa, meskipun awalnya ia merasa cemas akan kepastian beasiswa tersebut. Namun, ia akhirnya berhasil meraihnya.

Dukungan Dosen dan Persiapan Matang

Made merasa bahwa percepatan masa studinya sangat dipengaruhi oleh dosen pembimbing yang selalu aktif memantau dan mendorongnya untuk terus maju. "Promotor dan ko-promotor selalu memantau, berkomunikasi secara aktif, dan selalu menanyakan progress research. Merasa dikejar-kejar, tetapi memang hasilnya untuk kebaikan saya dan juga prodi," ungkapnya.

Selain dukungan dari dosen, Made juga melakukan persiapan yang matang. Ia menyarankan kepada calon doktor untuk menyiapkan rencana riset bahkan sebelum resmi memulai kuliah. "Jika sudah setengah matang, minta kepada prodi terkait calon promotor dan ko-promotor yang keilmuannya sesuai dengan rencana riset," tambahnya.

Made juga berbagi tips untuk meraih IPK sempurna. Ia menegaskan bahwa tidak ada strategi khusus yang ia terapkan, melainkan fokus dan konsistensi dalam mengerjakan tugas. "Kita perlu mengikuti dan menikmati proses, mengerjakan semampunya, dan menyerahkan hasil pada Yang Kuasa," pesannya.

detik.com Sumber: detik.com

Artikel Terkait