Wakil Ketua MPR, Lestari Moerdijat, menyatakan bahwa pentingnya adanya wadah untuk memperkuat kolaborasi dalam meningkatkan kualitas dan karakter anak bangsa sangat diperlukan, mengingat berbagai tantangan yang dihadapi oleh sektor pendidikan nasional. "Peningkatan mutu pendidikan tidak bisa hanya mengandalkan kebijakan pemerintah, tetapi membutuhkan partisipasi aktif semua elemen bangsa," ungkapnya dalam keterangan tertulis pada Selasa (7/7).
Peluncuran Gerakan PSPB
Sebelumnya, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah meluncurkan Gerakan Partisipasi Semesta Pendidikan Bermutu (PSPB) pada Senin (6/7). Gerakan ini bertujuan untuk menghidupkan kembali semangat gotong royong dalam memajukan pendidikan di Indonesia. Inisiatif ini diambil di tengah berbagai tantangan yang dihadapi, seperti masih terdapat 2,92 juta anak Indonesia yang tidak bersekolah dan lebih dari 200 ribu gedung sekolah dalam kondisi rusak.
Selain itu, hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 menunjukkan bahwa lebih dari 8,7 juta murid SD dan SMP belum mencapai hasil yang memuaskan, dengan angka literasi rata-rata sebesar 60 untuk tingkat SD dan 60,83 untuk SMP. Sedangkan untuk kemampuan numerasi, rata-rata nilai yang diperoleh adalah 43,41 untuk SD dan 40,34 untuk SMP.
Harapan untuk Pendidikan yang Lebih Baik
Gerakan PSPB diharapkan dapat menciptakan ruang kolaborasi bagi guru, kepala sekolah, pemerintah daerah, serta mitra pembangunan dan organisasi dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan. "Dengan Gerakan PSPB, kontribusi dari dunia usaha, filantropi, dan masyarakat menjadi lebih terarah dan tepat sasaran, khususnya dalam mendukung pengembangan bakat, minat, dan karakter generasi penerus bangsa," harap Rerie, sapaan akrab Lestari.
Rerie juga berpendapat bahwa gerakan ini dapat berfungsi sebagai katalis untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang tidak hanya unggul dalam pencapaian akademik, tetapi juga kuat dalam pengembangan karakter. Ia mendorong agar Gerakan PSPB memprioritaskan dukungan program terkait isu-isu penting seperti pelatihan guru, penyediaan konten dan infrastruktur digital, serta revitalisasi sekolah.
Menurutnya, komitmen yang kuat dari semua pihak terkait untuk mendukung gerakan ini merupakan kunci untuk perbaikan nyata dalam sistem pendidikan nasional. "Kita semua, mulai dari pemerintah pusat, dinas pendidikan, kepala sekolah, guru, hingga orang tua, harus siap mengubah pola pengajaran dan pendampingan untuk membangun kompetensi dan karakter siswa yang lebih baik," tegasnya.
Rerie berharap dengan semangat kolaborasi melalui Gerakan PSPB, Indonesia dapat bergerak lebih cepat menuju cita-cita pendidikan yang bermutu untuk semua, serta melahirkan generasi emas yang cerdas, berintegritas, dan berdaya saing.