Jepang menjadi sorotan dunia ketika pendukungnya di stadion Piala Dunia menunjukkan aksi bersih-bersih setelah pertandingan. Kejadian ini bukan hanya sekadar merayakan kemenangan, tetapi juga mencerminkan budaya disiplin yang telah ada sejak lama. Pada Piala Dunia Qatar 2022, momen ini menjadi viral di media sosial, mengingatkan kembali pada kebiasaan yang telah ada sejak tim nasional Jepang pertama kali berpartisipasi di Piala Dunia pada tahun 1998 di Prancis.
Setelah pertandingan, para pendukung Jepang langsung fokus membersihkan area tempat mereka duduk, dan hal ini juga dilakukan oleh para pemain yang tidak meninggalkan ruang ganti dalam keadaan kotor. Bahkan, mereka melipat dan menata pakaian yang disediakan dengan rapi.
Budaya Kebersihan yang Ditanamkan Sejak Dini
Kedisiplinan dalam menjaga kebersihan di Jepang dimulai sejak anak-anak masih kecil. Setiap sekolah, mulai dari tingkat dasar hingga menengah, memiliki jadwal rutin untuk bersih-bersih. Anak-anak di Jepang diajarkan untuk membersihkan ruang kelas, koridor, dan toilet, serta diharapkan untuk tidak membuang sampah sembarangan.
Maiko Awane, asisten direktur kantor Pemerintah Prefektur Hiroshima di Tokyo, menjelaskan bahwa kebiasaan ini sudah menjadi bagian dari rutinitas harian mereka. "Selama 12 tahun masa sekolah, dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, waktu bersih-bersih adalah bagian dari jadwal harian siswa," ujarnya. Dia juga menambahkan bahwa orang tua mengajarkan pentingnya menjaga kebersihan di rumah.
Pendidikan Kesadaran Lingkungan
Di Jepang, kesadaran lingkungan juga dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah. Pendidikan ini bertujuan untuk membentuk karakter anak-anak agar merasa bangga dengan lingkungan mereka. Jika lingkungan bersih dan setiap anak berkontribusi untuk menjaganya, maka mereka akan merasa tidak nyaman jika ada teman yang malas untuk bersih-bersih.
Awane menekankan bahwa orang Jepang sangat memperhatikan reputasi mereka di mata orang lain. Di tingkat pendidikan tinggi, seperti di Universitas Tokyo, kegiatan pembersihan juga dianggap penting dan termasuk dalam keterampilan nonkognitif yang setara dengan keterampilan akademis.
Prinsip yang dipegang oleh orang Jepang, "Tatsu tori ato wo nigosazu," berarti "Seekor burung tidak meninggalkan jejak kotor." Prinsip ini mendorong mereka untuk selalu mengembalikan tempat yang mereka kunjungi ke keadaan semula, termasuk di stadion. Scott North, seorang profesor sosiologi di Universitas Osaka, menambahkan bahwa kebiasaan bersih-bersih setelah pertandingan adalah perpanjangan dari perilaku yang diajarkan di sekolah.
Kebiasaan menjaga kebersihan ini telah membentuk lingkungan yang bersih di seluruh Jepang. Hampir di setiap sudut negara ini, tidak ada sampah yang berserakan. Laporan BBC tahun 2019 menunjukkan bahwa uang kertas yang dikeluarkan dari ATM pun terlihat rapi. Selain itu, orang-orang di Jepang tidak menerima uang secara langsung dengan tangan untuk menjaga kebersihan.
Pengelolaan sampah di Jepang juga sangat teratur, dengan pemisahan antara sampah yang mudah terbakar, tidak mudah terbakar, dan barang yang dapat didaur ulang. Masyarakat Jepang terbiasa memisahkan sampah sesuai jenisnya, sehingga menciptakan lingkungan yang bersih dan teratur.