Fakta Pendidikan

Musim Panas Eropa dan AS: Ancaman Heat Dome yang Perlu Diwaspadai Indonesia

Musim panas di Eropa dan Amerika Serikat kali ini mengalami fenomena heat dome yang menyebabkan suhu ekstrem. Meskipun Indonesia tidak langsung terpengaruh, masyarakat tetap perlu waspada terhadap pot...

A
Amara Rukmana
30 June 2026
41 pembaca
Heat Dome Kepung Eropa. (Foto: DW News)
Heat Dome Kepung Eropa. (Foto: DW News)

Jakarta - Musim panas di Eropa tahun ini menunjukkan perbedaan signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Wilayah yang biasanya sejuk kini menghadapi suhu tinggi dan kelembapan yang sangat tinggi, yang dikenal sebagai heat dome.

Heat dome atau kubah panas adalah fenomena yang dapat membuat suhu yang sudah tinggi menjadi lebih ekstrem dan berlangsung lama. Peningkatan intensitas heat dome sejalan dengan pemanasan global yang terjadi di planet ini.

Pengenalan Heat Dome

Menurut Alex Lamer, perwakilan dari Badan Cuaca Nasional AS, heat dome merupakan area besar dengan tekanan tinggi dan udara hangat yang 'berdiam' di atas suatu wilayah. Fenomena ini terjadi akibat aliran udara hangat yang bergerak ke arah utara, yang menyebabkan udara turun, tekanan meningkat, dan suhu menjadi lebih tinggi.

Zachary Labe, seorang ilmuwan iklim di Climate Central, menjelaskan bahwa heat dome adalah penyebab dari gelombang panas yang terjadi di berbagai tempat.

Pengaruh di Eropa dan AS

Bulan Maret 2026 menjadi bulan terpanas yang tidak normal dalam 132 tahun pencatatan di Amerika Serikat. Panas ekstrem ini juga menjadi perhatian utama menjelang Piala Dunia yang akan diselenggarakan di AS, Kanada, dan Meksiko. Eropa mulai merasakan dampak panas ekstrem ini pada bulan Juni 2026, dengan beberapa negara mencatat suhu mencapai 40 derajat Celsius.

Apakah Heat Dome Mempengaruhi Indonesia?

Meskipun heat dome berfungsi sebagai penyebab gelombang panas, fenomena ini tidak akan menjangkau Indonesia. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa gelombang panas umumnya terjadi di lintang menengah hingga tinggi.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan melalui laman resminya bahwa Indonesia terletak di wilayah ekuator, yang memiliki variabilitas cuaca yang cepat dan dinamika atmosfer yang berbeda. Namun, biasanya Indonesia dapat mengalami peningkatan suhu harian akibat cuaca cerah dan rendahnya tutupan awan pada siang hari.

Walaupun demikian, masyarakat di Indonesia tetap harus waspada terhadap kemungkinan anomali iklim ekstrem yang dapat menyebabkan suhu menjadi sangat tinggi. Kelembapan dapat berfungsi sebagai 'pengali' dari tingkat bahaya suhu udara, sehingga indeks panas bisa menjadi lebih menyengat. Jika cuaca menjadi terlalu panas dan lembap, risiko kelelahan panas dan heatstroke akan meningkat secara signifikan, meskipun suhu tidak mencapai 40 derajat Celsius seperti di Eropa.

detik.com Sumber: detik.com

Artikel Terkait