Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menyatakan niatnya untuk terus memperkuat kekuatan pertahanan negara di tengah ketidakpastian yang melanda geopolitik saat ini. Ia menekankan bahwa sektor pertahanan merupakan syarat utama untuk menjaga stabilitas negara. "Kita lihat kondisi dunia geopolitik penuh dengan ketidakpastian, dan kita tahu bahwa pertahanan syarat utama untuk stabilitas," ungkap Prabowo di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, pada hari Senin (18/5).
Peningkatan Alutsista untuk Keamanan Wilayah
Prabowo menegaskan komitmennya untuk selalu meningkatkan kekuatan pertahanan Indonesia, yang bertujuan untuk menjaga wilayah teritorial Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ia memberikan contoh, di mana pada hari itu, ia menyerahkan sejumlah alat utama sistem senjata (alutsista) baru kepada Tentara Nasional Indonesia (TNI), termasuk enam unit pesawat tempur multirole combat aircraft (MRCA) Rafale, empat unit pesawat angkut Falcon 8X, dan satu pesawat Airbus A400M MRTT. "Dalam waktu yang akan datang terus akan kita bangun kekuatan kita. Kita ingin mengamankan wilayah udara, wilayah laut, dan tentunya wilayah daratan kita," jelasnya.
Anggaran Pertahanan yang Signifikan
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa pemerintah telah menyiapkan anggaran yang cukup besar untuk sektor pertahanan, terutama di tengah situasi global yang tidak menentu. Namun, ia enggan merinci jumlah anggaran yang disiapkan untuk penguatan pertahanan Indonesia. "Tahun depan juga kita anggarkan juga cukup signifikan. Tapi kalau anda tanya jumlahnya kan tahasia," kata Purbaya.
Kondisi dunia saat ini dipenuhi dengan konflik yang berkecamuk di berbagai kawasan. Perang di Eropa terjadi setelah Rusia menganeksasi Krimea, Ukraina, pada tahun 2022. Selain itu, Israel terus melancarkan invasi militernya ke wilayah Gaza, Palestina, dan baru-baru ini, operasi militer gabungan Israel-AS melakukan serangan ke wilayah Iran.