Seorang akademisi dengan gelar tinggi biasanya berbicara berdasarkan data dan fakta. Namun, di Malaysia, seorang profesor bernama Solehah Yaacob membuat pernyataan yang mengklaim bahwa orang Melayu memiliki kemampuan untuk terbang. Pernyataan tersebut mendapatkan respons dari Universitas Islam Internasional Malaysia (IIUM), tempat ia bekerja, yang memutuskan untuk memberhentikannya secara resmi pada 27 April 2026, meskipun pengumuman ini baru dirilis pada 23 Agustus.
Kantor Komunikasi, Advokasi, dan Promosi IIUM menyatakan, "Dia bukan lagi seorang profesor dan tidak berhak mengklaim hubungan apa pun dengan universitas. IIUM berharap klarifikasi ini akan membantu menghindari kesalahpahaman dan menjunjung tinggi integritas serta kedudukan akademik universitas."
Pernyataan Kontroversial yang Menyulut Perdebatan
Setelah pemecatan, pihak universitas menegaskan bahwa Solehah Yaacob tidak lagi memiliki jabatan sebagai profesor maupun mewakili institusi dalam kapasitas resmi. Selama setahun terakhir, Solehah diketahui sering melontarkan klaim yang memicu kontroversi, terutama terkait sejarah dan peradaban Melayu. Pada November 2025, ia pernah menyatakan bahwa orang Romawi belajar membuat kapal dari orang Melayu kuno dan juga mengaitkan istri Nabi Muhammad SAW, Khadijah, dengan dunia Melayu.
Selain mengklaim bahwa orang Melayu bisa terbang, ia juga menyatakan bahwa orang Tionghoa belajar 'kung fu terbang' dari bangsa Melayu. Dalam bidang astronomi dan geologi, ia mengklaim bahwa tumbukan meteor bertanggung jawab atas deposit bijih besi di Kedah, Malaysia. Pernyataan-pernyataannya sering kali menimbulkan perdebatan di kalangan akademisi dan masyarakat umum, sebagaimana dilaporkan oleh The Straits Times.
Tanggapan Solehah Yaacob atas Pemecatan
Setelah dipecat, Solehah menuduh IIUM tidak bertindak profesional. Ia mengklaim bahwa dirinya tidak diberikan kesempatan untuk mengajukan banding setelah pemecatan tersebut. "Saya dipecat dalam waktu 24 jam dan tidak diizinkan untuk mengajukan banding. IIUM ingin membayar saya setara dengan enam bulan gaji, tetapi saya menolak," ungkapnya. Menariknya, sehari sebelum pemecatannya, Kementerian Pendidikan Tinggi Malaysia memberikan penghargaan Penilaian Penelitian Malaysia kepadanya.
Kontroversi ini mencerminkan tantangan yang dihadapi oleh akademisi dalam menyampaikan pendapat yang mungkin bertentangan dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat.