Fakta Nasional

Respon Menteri Fadli Zon Terhadap Fenomena Gunung Kawi yang Viral

Menteri Kebudayaan Fadli Zon memberikan tanggapan mengenai fenomena yang terjadi di Gunung Kawi, Jawa Timur, yang belakangan ini menjadi perbincangan hangat di masyarakat.

D
Dila Rakasiwi
07 July 2026
39 pembaca
Menbud Fadli Zon seusai penetapan 13 Juli sebagai Hari Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa di TMII, Jakarta Timur, Senin (6/7/2026). (Taufiq Syarifudin/detikcom)
Menbud Fadli Zon seusai penetapan 13 Juli sebagai Hari Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa di TMII, Jakarta Timur, Senin (6/7/2026). (Taufiq Syarifudin/detikcom)

Jakarta - Menteri Kebudayaan Fadli Zon merespons fenomena yang tengah viral di Gunung Kawi, Jawa Timur. Ia menilai fenomena ini mencerminkan keragaman budaya yang ada di Indonesia.

Pembicaraan mengenai Gunung Kawi semakin ramai setelah kedatangan Marcel Radhival, yang dikenal sebagai Pesulap Merah. Dalam unggahannya, Pesulap Merah menunjukkan ketertarikan terhadap isu dugaan pesugihan serta praktik penggunaan tumbal. Ia juga melakukan wawancara langsung dengan juru kunci setempat untuk menggali informasi lebih dalam.

Keberagaman Budaya di Indonesia

Fadli Zon menjelaskan bahwa fenomena yang terjadi di Gunung Kawi bukanlah hal yang terisolasi, melainkan bagian dari mozaik tradisi dan budaya yang ada di berbagai tempat di Indonesia. "Itu kan kita, keberagaman kita ya di dalam memahami termasuk apa yang terjadi tidak hanya di Gunung Kawi, di berbagai tempat ya, itu satu hal yang merupakan mozaik dari tradisi dan budaya lama," ujarnya kepada wartawan setelah penetapan 13 Juli sebagai Hari Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa di TMII, Jakarta Timur, pada Senin (6/7/2026).

Pentingnya Pendekatan Budaya

Politikus senior dari Partai Gerindra ini menekankan bahwa setiap masyarakat memiliki cara masing-masing dalam mendekati kebudayaan. Ia juga mengingatkan bahwa selama fenomena tersebut memberikan manfaat dan tidak mengganggu ketentraman masyarakat, maka hal itu dapat diterima. "Saya kira selama itu bisa memberikan kebaikan, terutama mendatangkan ekonomi budaya bagi masyarakat setempat dan tidak mengganggu, tidak merusak, gitu ya, tentu itu kita anggap sebagai bagian dari realitas kehidupan kita," tuturnya.

Artikel Terkait