Fakta Pendidikan

Rivan Rinaldi: Alumnus LPDP yang Berjuang untuk Kesejahteraan Petani Aceh

Rivan Rinaldi berkomitmen untuk meningkatkan kesejahteraan petani di Aceh melalui Rumoh Pangan Aceh, sebuah inisiatif yang bertujuan memberikan harga yang lebih adil bagi hasil panen mereka.

N
Naufal Akbar
05 August 2026
48 pembaca
Rivan Rivaldi, Alumnus LPDP yang Perjuangkan Keadilan Petani. (Foto: Kemenkeu)
Rivan Rivaldi, Alumnus LPDP yang Perjuangkan Keadilan Petani. (Foto: Kemenkeu)

Rivan Rinaldi merasa prihatin dengan kondisi petani yang belum mendapatkan imbalan yang layak atas kerja keras mereka. Di pasar Aceh, seikat bayam dijual seharga Rp 2.000, namun petani hanya memperoleh keuntungan sebesar Rp 300. Menurut Rivan, perbedaan harga ini bukan hanya sekadar masalah ekonomi, tetapi juga menciptakan ketidakpastian yang terus berulang setiap musim panen.

Dengan bekal ilmu yang didapat dari beasiswa LPDP, Rivan mendirikan Rumoh Pangan Aceh untuk memperkuat posisi petani, mempromosikan pangan lokal, dan menciptakan sistem pangan yang lebih adil. "Petani yang jagain, yang rawat, panas, hujan, nanam, segalanya. Tapi yang kaya siapa? Yang sejahtera siapa?" ungkap Rivan dalam sebuah wawancara.

Inisiatif untuk Kesejahteraan Petani

Rivan bersama tim Rumoh Pangan Aceh menerapkan skema contract farming dalam membeli hasil panen. Dengan menetapkan harga minimum di awal, petani dapat memperkirakan pendapatan yang akan mereka terima. Rumoh Pangan Aceh berupaya menghubungkan petani dengan pasar dan rantai industri yang dapat menyerap hasil produksi secara berkelanjutan. Saat ini, sekitar 200 petani dan pelaku pangan telah terlibat dalam program ini.

Selain itu, Rumoh Pangan Aceh juga melaksanakan program penyelamatan pangan, sedekah pangan, dan edukasi gizi. Inisiatif ini bertujuan untuk memastikan bahwa hasil panen tidak terbuang, petani mendapatkan nilai yang lebih layak, dan pangan dapat disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan. "Sebagus-bagusnya program adalah program yang dijalankan. Walaupun kecil, ia bisa menjadi gelombang yang berkelanjutan," jelas Rivan.

Perjalanan Rivan Menuju Kesejahteraan Petani

Rivan tumbuh di Desa Ladang, Aceh Selatan, di mana ia sering membantu di sawah dan kebun pala. Dari pengalaman tersebut, ia menyaksikan ironi di mana para pengusaha ketahanan pangan tidak hidup sejahtera. Setelah mendapatkan beasiswa LPDP, ia melanjutkan studinya di Wageningen University & Research di Belanda untuk mendalami pemuliaan tanaman guna mengatasi masalah hama dan penyakit pala di Aceh.

Namun, setelah beberapa waktu, Rivan beralih ke bidang yang lebih aplikatif. "Apa sih masalah mendasar yang bisa segera saya selesaikan dan memberikan manfaat bagi orang banyak?" kenangnya. Ia mempelajari sistem produksi tanaman, pertanian regeneratif, serta hubungan antara teknologi, lingkungan, produktivitas, dan pasar.

Rivan memahami bahwa untuk membangun pertanian yang berkelanjutan, petani perlu terhubung dalam ekosistem yang melibatkan produksi, pengolahan, industri, dan konsumen. Sebelum lulus dari Wageningen, ia bekerja di perusahaan pengolahan kelapa di Aceh, mendampingi petani, menjaga kualitas bahan baku, dan menangani sertifikasi organik. Pengalaman ini memberinya wawasan tentang rantai bisnis pertanian dari panen hingga pemrosesan untuk pasar ekspor.

Setelah hampir tiga tahun bekerja, Rivan mengikuti program fellowship di Amerika Serikat, di mana ia belajar tentang pasar yang lebih adil dan pengelolaan organisasi. Ia juga mempelajari peran bank pangan dalam membantu masyarakat serta menyerap hasil panen. Setelah menyelesaikan program tersebut, Rivan memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya dan mendirikan Rumoh Pangan Aceh pada tahun 2024.

detik.com Sumber: detik.com

Artikel Terkait