Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan hari Senin mengalami penurunan sebesar 4 poin atau 0,02 persen, menjadi Rp 17.646 per dolar AS. Sebelumnya, penutupan berada di level Rp 17.642 per dolar AS. Menurut pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, pelemahan ini dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Penyebab Pelemahan Rupiah
Ibrahim menjelaskan bahwa ketegangan tersebut telah berdampak pada penguatan indeks dolar AS dan harga minyak mentah, yang pada gilirannya memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Ia mencatat bahwa harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran 91,92 dolar AS per barel, setara dengan sekitar Rp 1,62 juta per barel, sedangkan minyak mentah Brent diperdagangkan sekitar 96,55 dolar AS per barel atau sekitar Rp 1,70 juta per barel. Kenaikan harga minyak ini, menurutnya, akan meningkatkan kebutuhan valuta asing untuk memenuhi kebutuhan impor minyak.
“Permintaan untuk impor minyak dengan harga yang lebih mahal membuat pemerintah harus mempersiapkan dolar yang cukup banyak. Sehingga wajar kalau dalam transaksi pagi ini rupiah mengalami pelemahan,” ujarnya.
Dampak Aktivitas Gunung Anak Krakatau
Dari dalam negeri, Ibrahim juga mengungkapkan bahwa aktivitas Gunung Anak Krakatau menjadi perhatian, karena dapat memengaruhi kegiatan ekonomi, terutama terkait dengan gangguan penerbangan. “Walaupun tidak terlalu besar, tapi ini berindikasi terhadap ekonomi di Indonesia. Kita lihat bahwa penerbangan dari tanggal 6 sampai tanggal 7 masih ditutup,” tuturnya. Ia menambahkan bahwa pelaku pasar kini menantikan sejumlah data ekonomi domestik, termasuk perkembangan cadangan devisa, penjualan eceran, dan indeks keyakinan konsumen.
Sementara itu, Josua Pardede, Chief Economist Permata Bank, menyatakan bahwa data tenaga kerja di Amerika Serikat yang lebih kuat dari perkiraan meningkatkan kemungkinan kenaikan suku bunga oleh The Fed pada pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) bulan September 2026. Nonfarm payrolls AS tercatat meningkat sebesar 162 ribu pada Agustus 2026, jauh melampaui ekspektasi pasar yang hanya 55 ribu, dengan tingkat pengangguran tetap di angka 4,1 persen.
“Data tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan tersebut meningkatkan ekspektasi pasar yang tercermin dalam pricing terhadap kenaikan suku bunga kebijakan menjadi sekitar 60 persen, dari sekitar 50 persen, sehingga mendukung penguatan dolar AS,” jelas Josua. Ia memperkirakan bahwa nilai tukar rupiah pada perdagangan hari Senin akan bergerak dalam kisaran Rp 17.600 hingga Rp 17.725 per dolar AS.