Fakta Pendidikan

Seminar Nasional UNJ: Menyongsong Masa Depan Pendidikan di Era Disrupsi

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Atip Latipulhayat, hadir dalam Seminar Nasional yang membahas reaktualisasi pedagogi, diselenggarakan oleh mahasiswa UNJ, untuk mengkaji arah kebijak...

S
Stevani Nila Wardana
01 July 2026
50 pembaca
Seminar UNJ Bahas Masa Depan Pedagogi, Wamendikdasmen Jelaskan Arah Kebijakan TKA
Seminar UNJ Bahas Masa Depan Pedagogi, Wamendikdasmen Jelaskan Arah Kebijakan TKA

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Prof. Atip Latipulhayat, berpartisipasi dalam Seminar Nasional bertajuk “Reaktualisasi Pedagogi dalam Era Disrupsi: Mengembalikan Ruh Pendidikan yang Terabaikan” yang diadakan oleh mahasiswa Program Studi Doktor (S3) Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Acara ini berlangsung di Aula Maftuchah Yusuf, Kampus A UNJ, pada Selasa, 30 Juni.

Seminar ini dibuka oleh Wakil Rektor UNJ, Prof. Dr. Ari Saptono, dan menghadirkan sejumlah pakar pendidikan nasional untuk membahas masa depan pedagogi Indonesia di tengah perubahan kebijakan pendidikan dan perkembangan teknologi yang dinamis.

Pentingnya Dialog Akademik

Ketua Panitia Seminar Nasional, Canter Sangaji, mengungkapkan bahwa kehadiran Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah merupakan momen penting untuk membangun dialog konstruktif antara pembuat kebijakan, perguruan tinggi, dan praktisi pendidikan. “Kami bersyukur Seminar Nasional ini mendapat kehormatan dengan kehadiran Prof. Atip Latipulhayat selaku Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI. Kehadiran beliau menunjukkan pentingnya ruang dialog di ruang akademik dalam merumuskan arah kebijakan pendidikan nasional pemerintahan Presiden Prabowo yang berpijak pada nilai-nilai pedagogi dan kebutuhan masa depan Indonesia,” jelasnya.

Arah Kebijakan TKA

Dalam kesempatan tersebut, Wamendikdasmen, Prof. Atip Latipulhayat, menjelaskan mengenai kebijakan pemerintah terkait implementasi Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang merupakan bagian dari transformasi sistem evaluasi pendidikan nasional. “TKA itu merupakan kebijakan transisi untuk moderasi. Kewenangan kelulusan menurut UU Sisdiknas tetap pada para guru di sekolah. TKA menjadi alat untuk intervensi kebijakan, terutama untuk sekolah-sekolah di daerah yang tertinggal,” tegasnya.

Prof. Atip menekankan bahwa TKA bukanlah pengganti kewenangan guru dalam menentukan kelulusan siswa, melainkan sebuah instrumen pemerintah untuk mengumpulkan data yang lebih objektif sebagai dasar penyusunan kebijakan pendidikan nasional yang lebih tepat sasaran.

Sementara itu, Prof. Dr. Mamat Supriatna mengingatkan bahwa permasalahan mendasar dalam pendidikan Indonesia terletak pada kurangnya perhatian terhadap kajian pedagogi. “Akademisi dan praktisi cenderung fokus meneliti pendidikan formal, pengajaran, dan persoalan teknis metodologis di kelas. Dimensi fundamental teori, struktur, dan praksis pendidikan dalam keluarga maupun masyarakat justru terabaikan,” ujarnya.

Sejalan dengan itu, Prof. Dr. Nurhattati Fuad menegaskan pentingnya integrasi kecerdasan buatan dalam pedagogi masa depan tanpa mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan. “Pedagogi mesti membantu guru dan pengambil kebijakan untuk mengantisipasi kondisi masa depan dan mempersiapkan murid agar mampu hidup di zamannya,” tambahnya.

Ia juga menekankan bahwa nilai-nilai seperti empati, solidaritas, keadilan, dan keberlanjutan harus tetap menjadi fondasi utama dalam pendidikan.

Di akhir seminar, moderator Doni Koesoema, M.Ed., menekankan bahwa pendidikan harus menghasilkan warga negara yang berintegritas. “Orientasi pedagogis perlu memiliki dampak transformatif, memperjuangkan keadilan, serta membangun budaya antikorupsi,” tuturnya.

Seminar Nasional ini dihadiri oleh ratusan peserta, termasuk dosen, mahasiswa, guru, kepala sekolah, praktisi pendidikan, dan masyarakat umum, baik secara luring maupun daring. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi forum strategis dalam merumuskan kembali arah pedagogi Indonesia agar lebih humanis, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta mampu menjawab tantangan pendidikan abad ke-21.

jpnn.com Sumber: jpnn.com

Artikel Terkait