Fakta Nasional

Teguran Keras Trump untuk Iran Sebelum Tindakan Tegas

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menunjukkan kemarahan terhadap Iran yang membantah adanya negosiasi dengan AS, memberikan ultimatum terakhir sebelum mengambil tindakan tegas.

A
Agustinus Jaya Wiratama
05 August 2026
46 pembaca
Foto: Presiden AS Donald Trump. (DW (News))
Foto: Presiden AS Donald Trump. (DW (News))

Jakarta - Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, mengungkapkan kemarahan terhadap Iran yang menolak klaim bahwa mereka sedang bernegosiasi dengan AS. Trump mengeluarkan ancaman kepada Iran untuk mencapai kesepakatan, bahkan memberikan ultimatum terakhir sebelum melakukan tindakan yang disebutnya sebagai 'pemenggalan'.

Menurut laporan yang dirangkum, pada hari Minggu (2/8), Trump menyatakan bahwa AS telah membatalkan rencana serangan terhadap Iran. Ia menjelaskan bahwa penundaan tersebut dipicu oleh adanya kesepakatan yang telah disetujui, yang berkaitan dengan pembukaan Selat Hormuz dan penghentian ancaman terkait senjata nuklir. Namun, Iran menganggap pernyataan Trump sebagai klaim sepihak dan membantah adanya permintaan untuk menghentikan rencana serangan tersebut, yang membuat Trump semakin marah.

Trump Mengeluarkan Ultimatum

Trump menunjukkan kemarahannya setelah Iran menolak bahwa mereka sedang bernegosiasi dengan AS. Ia mengancam Iran untuk segera mencapai kesepakatan atau menyerah. Dalam sebuah unggahan di media sosial Truth pada hari Senin (3/8), Trump menegaskan bahwa blokade militer AS akan terus berlanjut sampai ada "Kesepakatan, atau penyerahan total." Ia juga mengkritik Iran karena tidak bersedia melakukan "diskusi apa pun" dan hanya berhubungan dengan Oman.

Trump mengekspresikan ketidakpuasannya dengan menyatakan, "Kepemimpinan Iran sungguh munafik! Mereka meminta pertemuan, sebagian orang mengatakan 'memohon' pembicaraan dimulai, dengan lebih banyak pertemuan dijadwalkan dalam waktu dekat, dan mereka mengatakan, secara terbuka dan bangga, bahwa mereka tidak mengadakan diskusi apa pun, bahwa tidak ada yang dibicarakan, dan mereka hanya berurusan dengan 'Oman'." Ia juga menuduh Iran terus berbicara tentang Selat Hormuz, yang menurutnya sudah sepenuhnya dikendalikan oleh Angkatan Laut AS.

Pernyataan Iran tentang Negosiasi

Pemerintah Iran menegaskan bahwa saat ini mereka tidak sedang bernegosiasi dengan AS. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menjelaskan bahwa mereka hanya bernegosiasi dengan Oman untuk memastikan jalur aman di Selat Hormuz. Ia menambahkan bahwa mencapai kesepakatan dengan Oman tidak akan cukup untuk membuka kembali selat tersebut selama "agresi" AS masih berlanjut.

Trump juga menyatakan bahwa ia ingin memberikan kesempatan terakhir kepada Iran sebelum melakukan tindakan yang disebutnya sebagai "pemenggalan." Dalam pernyataannya di Ruang Oval Gedung Putih pada hari Senin (3/8), Trump mengklaim bahwa Iran yang meminta untuk melanjutkan negosiasi dengan AS. Ia menegaskan bahwa ini adalah kesempatan terakhir bagi Iran untuk menandatangani kesepakatan yang baik.

Lebih jauh, Trump menegaskan bahwa negosiasi antara AS dan Iran "sedang berlangsung saat ini" dan menambahkan bahwa Teheran sering menyangkal keterlibatan mereka dalam proses negosiasi dengan Washington. Ia menjelaskan bahwa perundingan akan dilakukan dalam dua tahap, dengan fokus pertama pada pembukaan kembali Selat Hormuz dan yang kedua pada kemampuan nuklir Iran.

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyatakan bahwa Teheran akan mempertahankan wilayahnya, tetapi menegaskan bahwa mereka tidak berniat memperluas konflik. Ia mengatakan, "Konflik, baik di area sekitar, kota, negara, maupun antar negara, merupakan penyakit yang muncul." Pezeshkian menekankan bahwa meskipun mereka akan mempertahankan perbatasan, Iran tidak memiliki niat untuk melanjutkan atau memperluas perang.

Artikel Terkait