Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) telah resmi memisahkan jalur karier dosen berdasarkan kemampuan dan fokus kerja mereka. Mulai sekarang, dosen UMY akan diarahkan untuk memilih salah satu dari tiga jalur yang tersedia, yaitu peneliti, pengajar, atau pengabdian masyarakat. Dengan kebijakan ini, dosen tidak lagi diwajibkan untuk menjalankan semua fungsi secara bersamaan.
Rektor UMY, Prof Dr Achmad Nurmandi, MSc, menyatakan bahwa keputusan ini diambil karena adanya keprihatinan terhadap beban kerja dosen yang dianggap tidak realistis. Selama ini, dosen yang memiliki kemampuan dalam riset tetap diharuskan untuk memenuhi beban mengajar hingga 40 SKS per tahun, serta diharuskan untuk menghasilkan tiga hingga empat publikasi ilmiah dalam periode yang sama. "Kalau harus publikasi 3-4 per tahun dan tetap diharuskan mengajar sampai 40 SKS, ya bisa dipastikan akan kesulitan. Ini tidak mungkin," ungkapnya dalam diskusi kelompok terfokus dengan dekan, ketua program studi, dan ketua pusat studi UMY.
Perubahan Jalur Karier Dosen
Dengan adanya kebijakan baru ini, dosen UMY yang memilih jalur peneliti akan dibebaskan dari kewajiban mengajar secara penuh dan dapat lebih fokus dalam menciptakan karya ilmiah. Mereka akan melakukan kegiatan di Gedung Research and Innovation Center UMY. Selain itu, dosen yang menduduki posisi struktural seperti dekan atau rektor juga tidak akan dibebani target publikasi riset yang sama dengan dosen yang berfokus pada penelitian.
Strategi Peningkatan Kualitas Publikasi
Kebijakan ini juga merupakan bagian dari strategi UMY untuk meningkatkan posisi dalam pemeringkatan perguruan tinggi, baik di tingkat nasional maupun internasional. Hal ini dikarenakan output riset dan publikasi yang terindeks menjadi salah satu variabel utama penentu peringkat. Dengan memisahkan jalur karier dosen, UMY berharap dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas publikasi ilmiah yang dihasilkan. Rektor menegaskan bahwa kebijakan ini tidak bertujuan untuk membatasi, tetapi justru untuk memberikan kebebasan kepada dosen agar dapat berkembang sesuai dengan keahlian terbaik mereka. "Dosen yang memang talentanya riset, sebaiknya memang difokuskan untuk riset saja. Riset itu dunia yang selalu menjanjikan, dan bagi saya pribadi, menyenangkan," tambahnya.