Jakarta - Peneliti dari Oxford Smith School of Enterprise and the Environment telah merilis daftar 20 kota di dunia yang paling rentan terhadap dampak kenaikan suhu. Dalam daftar ini, terdapat dua kota dari Indonesia yang termasuk dalam kategori tersebut. Penelitian ini melibatkan analisis terhadap 205 kota di seluruh dunia untuk mengidentifikasi daerah-daerah di mana penduduknya paling terpapar panas dan seberapa besar kerentanan sumber daya yang dimiliki masyarakat dalam menghadapinya.
"Studi ini menemukan bahwa lebih dari 95% kota dengan risiko tertinggi berada di Asia Selatan dan Tenggara, serta Afrika Sub-Sahara, yang menunjukkan di mana upaya adaptasi sangat diperlukan," tulis Oxford University dalam unggahan di Instagram yang dikutip pada Kamis (9/7/2026).
Daftar Kota Paling Rentan Terhadap Gelombang Panas
Berikut adalah daftar 20 kota yang paling rentan terhadap risiko gelombang panas:
- Al Basra, Irak
- Ahmadabad, India
- Hyderabad, Pakistan
- Bamako, Mali
- Faisalabad, Pakistan
- Barranquilla, Kolombia
- Conakry, Guinea
- Nagpur, India
- Lagos, Nigeria
- Bhopal, India
- Port Harcourt, Nigeria
- Kaduna, Nigeria
- Madurai, India
- Ibadan, Nigeria
- Patna, India
- Phnom Penh, Kamboja
- Luanda, Angola
- Surabaya, Indonesia
- Bandung, Indonesia
- Abidjan, Pantai Gading
Faktor Penyebab Kerentanan Kota
Penulis utama studi, Nethmi Jayaratne Kariyawasam, mengidentifikasi tiga faktor yang membuat penduduk kota lebih rentan terhadap kenaikan suhu. Ketiga faktor tersebut adalah:
- Seberapa intens dan seringnya kota mengalami paparan panas.
- Kelompok masyarakat yang rentan terhadap efek panas.
- Ketersediaan sumber daya dan infrastruktur yang mendukung masyarakat dalam beradaptasi menghadapi panas.
Studi ini menunjukkan bahwa kota yang mengalami paparan panas tinggi tidak selalu memiliki risiko tinggi akibat kenaikan suhu. Misalnya, kota-kota seperti Bangkok, Kuala Lumpur, dan Jeddah menghadapi suhu yang sangat tinggi, tetapi pemerintah di kota-kota tersebut mampu mengelola risiko dengan baik berkat sumber daya dan infrastruktur yang memadai.
Selain ketiga faktor tersebut, terdapat beberapa faktor lain yang dapat memperburuk dampak dari panas ekstrem, antara lain:
- Usia dan demografi penduduk.
- Kondisi perekonomian.
- Akses ke lokasi yang lebih sejuk.
- Keberadaan ruang hijau dan tutupan pohon.
- Keterjangkauan listrik.
Dari semua faktor yang ada, Al Basrah, Irak, dinyatakan sebagai kota dengan risiko tertinggi akibat kenaikan suhu di dunia. Di kota ini, terdapat tiga interaksi faktor penyebab, yaitu paparan panas yang tinggi, masyarakat yang rentan, dan kapasitas penanggulangan yang terbatas.
Untuk mengatasi masalah ini, studi merekomendasikan beberapa langkah yang dapat diambil oleh kota, seperti:
- Memperluas area penghijauan dan peneduhan kota.
- Meningkatkan akses terhadap alat pendingin yang terjangkau.
- Memperkuat ketahanan energi.
- Melindungi komunitas yang rentan.
"Karena beradaptasi dengan panas ekstrem bukan hanya tentang suhu, tetapi juga tentang manusia, infrastruktur, dan ketahanan," tutup studi tersebut.