Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, menyatakan bahwa upaya untuk mempercepat penguatan kompetensi guru dalam pendidikan harus didasarkan pada data yang akurat dan strategi yang menyeluruh. "Saat ini, kesenjangan antara kebutuhan dan ketersediaan guru kompeten di lapangan masih sangat tinggi, sehingga perlu strategi yang komprehensif untuk mempercepat kompetensi guru dalam menjalankan sistem pendidikan yang inklusif," ungkapnya dalam keterangan tertulis pada Jumat (10/7).
Data Pendidikan Inklusif di Indonesia
Menurut data dari Kemendikdasmen per September 2025, terdapat 363.921 siswa penyandang disabilitas di seluruh Indonesia. Dari jumlah tersebut, 199.375 siswa belajar di 60.910 satuan pendidikan penyelenggara pendidikan inklusif (SPPI). Namun, Lestari menyayangkan kenyataan bahwa hanya sekitar 15% dari total SPPI yang memiliki Guru Pembimbing Khusus (GPK). "Kondisi ini adalah hambatan serius dalam mewujudkan layanan pendidikan yang setara. Untuk itu, upaya peningkatan jumlah guru yang mampu mendidik anak berkebutuhan khusus harus segera direalisasikan. Ini bukan hanya soal kuantitas, tetapi juga kualitas kompetensi yang harus dikejar," tegasnya.
Langkah Nyata untuk Meningkatkan Kompetensi Guru
Rerie, sapaan akrab Lestari, menjelaskan bahwa percepatan kompetensi guru memerlukan langkah-langkah yang nyata dan terukur. Dia mendukung program pemerintah yang menargetkan pelatihan bagi 1.500 guru di 25 provinsi sepanjang tahun 2026 untuk mencapai tingkat mahir. Namun, Rerie mengingatkan bahwa target tersebut masih merupakan sebagian kecil dari kebutuhan nasional. "Pemerintah harus konsisten dan agresif. Program pelatihan yang diluncurkan Kemendikdasmen adalah langkah awal yang baik, tetapi jangan berhenti di situ. Kita perlu melihat rasio ideal," ujarnya.
Anggota Majelis Tinggi Partai Nasdem itu juga menekankan bahwa peningkatan kompetensi guru tidak hanya bersifat teknis. Dia mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan inklusif sangat bergantung pada kemampuan guru dalam memahami kebutuhan setiap anak dan menyesuaikan metode pembelajaran. "Guru adalah agen perubahan yang harus memiliki kemampuan berpikir kritis dan kemanusiaan. Mereka harus mendapat dukungan semua pihak agar mampu menerjemahkan filosofi pendidikan nasional ke dalam praktik pembelajaran yang inklusif dan adaptif, terutama di era digital ini," pungkasnya.