Jakarta - Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran belum menunjukkan tanda-tanda mereda. AS mengakui bahwa persediaan rudalnya tidak memadai untuk menghadapi perang habis-habisan melawan Teheran. Pada hari Selasa, Komando Pusat AS atau CENTCOM menyatakan bahwa militer mereka menargetkan "pusat komando militer Iran, fasilitas maritim, lokasi peluncuran rudal dan drone, serta sistem pertahanan udara." Selain itu, militer AS juga merilis rekaman terbaru dari serangan udara yang dilakukan terhadap beberapa lokasi di Iran.
"Pasukan Amerika tetap siaga dan siap meminta pertanggungjawaban Iran atas serangan yang tidak beralasan terhadap awak kapal sipil yang berupaya melintasi selat secara bebas dan terbuka," ungkap CENTCOM.
Presiden AS Pertimbangkan Opsi Perluasan Konflik
Presiden AS Donald Trump dilaporkan sedang mempertimbangkan kemungkinan untuk meluncurkan "perang yang lebih luas" melawan Teheran, di tengah peningkatan jumlah pesawat tempur Amerika yang dikerahkan ke Timur Tengah. Namun, seorang pejabat AS yang mengetahui pembahasan dalam pemerintahan mengungkapkan bahwa operasi tersebut akan terhambat oleh menipisnya persediaan pertahanan udara dan amunisi jarak jauh. "Kita tidak memiliki cukup amunisi untuk mempertahankan operasi dengan aman, dan saya rasa Gedung Putih tidak menyadari hal itu," kata pejabat tersebut kepada The Washington Post, seperti dilansir The Telegraph.
AS telah memperluas serangannya dengan serangan yang berlangsung selama sembilan hari berturut-turut terhadap Iran, semakin mendekati kemungkinan perang habis-habisan di kawasan tersebut.
Iran Lanjutkan Serangan ke Pangkalan AS
Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan bahwa mereka telah menyerang target-target di Bahrain, Yordania, dan Suriah. IRGC bahkan bersumpah untuk memberikan AS pelajaran yang tak terlupakan, yang diharapkan dapat mencegah siapa pun yang berupaya melakukan agresi terhadap Iran. "Sekarang setelah Amerika yang kriminal sekali lagi memilih jalan kesalahan, agresi, dan petualangan, kami terikat teguh pada perjanjian ini: bahwa kami akan memberikan 'pelajaran yang tak terlupakan'... pelajaran yang akan mencegah agresor mana pun untuk mengulangi kesalahannya," demikian pernyataan IRGC.
IRGC juga menegaskan bahwa mereka tidak akan pernah mempercayai AS dan janji-janji untuk mencapai penyelesaian melalui negosiasi. "Kami berjanji bahwa... kami tidak akan pernah mengikat nasib negara ini pada janji-janji musuh pembunuh anak yang rekam jejaknya penuh dengan pelanggaran kepercayaan, tipu daya, dan kebencian terhadap bangsa Iran," kata IRGC.
Perang Skala Penuh dengan AS
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa Teheran terlibat dalam "perang skala penuh" dengan AS, dan Washington harus siap menghadapi konsekuensi dari konflik tersebut. Meskipun demikian, kedua belah pihak memberikan sinyal bahwa diplomasi masih berlangsung di balik layar. "Kenyataannya adalah bahwa saat ini Republik Islam Iran terlibat dalam perang skala penuh," ujar Pezeshkian, seperti yang dikutip dalam pernyataan resmi kepresidenan.
Pezeshkian menilai tantangan terbesar yang dihadapi Iran saat ini bukan hanya di medan militer, melainkan juga di bidang ekonomi. "Medan perang terpenting saat ini adalah ekonomi dan mata pencaharian rakyat," tambahnya.