Fakta Nasional

DPR Soroti Pengurangan Perjalanan KRL Baru Produksi INKA

Anggota DPR RI, Mufti Anam, mempertanyakan pengurangan perjalanan kereta rel listrik (KRL) rute Bogor-Jakarta Kota oleh KAI Commuter Indonesia, yang disebabkan oleh perawatan armada KRL baru produksi...

S
Stevani Nila Wardana
09 September 2026
4 pembaca
Kapoksi PDIP Komisi VI DPR Mufti Anam. (Dok. Istimewa).
Kapoksi PDIP Komisi VI DPR Mufti Anam. (Dok. Istimewa).

Jakarta - Mufti Anam, yang menjabat sebagai Ketua Poksi PDIP di Komisi VI DPR RI, menyoroti keputusan KAI Commuter Indonesia (KCI) untuk mengurangi jumlah perjalanan kereta rel listrik (KRL) pada rute Bogor-Jakarta Kota hingga akhir September. Langkah ini diambil karena adanya perawatan armada KRL. Mufti mengungkapkan rasa herannya, mengingat kereta yang dimaksud merupakan produk baru dari INKA.

“Pemeriksaan demi keselamatan, tentu kita dukung. Keselamatan penumpang tidak boleh ditawar sedikit pun. Tetapi yang menjadi pertanyaan besar kami, ini kereta baru lho. Mengapa ketika baru beroperasi, justru keandalan produknya sudah menimbulkan persoalan sampai berdampak pada pengurangan 17 perjalanan?” ujar Mufti Anam kepada wartawan pada Rabu (9/9/2026).

Pertanyaan Terkait Keandalan Produk

Mufti Anam meminta agar INKA memberikan penjelasan mengenai masalah yang dihadapi. Ia juga menekankan bahwa negara telah memberikan dukungan yang signifikan terhadap industri dalam negeri. “INKA harus menjelaskan apa masalah sebenarnya, apa hasil evaluasinya dan apa jaminannya persoalan serupa tidak terus berulang. INKA ini kurang apa? Negara sudah memberikan keberpihakan luar biasa kepada industri dalam negeri,” tambahnya.

Lebih lanjut, Mufti menegaskan bahwa dukungan pemerintah terhadap produk nasional harus diimbangi dengan peningkatan kualitas. “Pasarnya diberikan, proyeknya diberikan, dukungan pemerintah diberikan, bahkan produk nasional terus kita dorong untuk menjadi prioritas. Jadi kalau negara sudah memberikan 'karpet merah', harusnya dijaga bahkan ditingkatkan dong kualitasnya. Jangan kemudian karena merasa produknya pasti digunakan, kualitas dan kendalanya di nomor duakan,” ujarnya.

Nasionalisme dan Kualitas Produk

Mufti juga menekankan pentingnya tidak menutup mata terhadap kekurangan produk dalam negeri. Ia meminta KAI untuk menjelaskan apakah ada cadangan kereta yang tersedia mengingat pengurangan 17 perjalanan tersebut. “Saya sangat mendukung produk Indonesia. Tetapi mencintai produk dalam negeri bukan berarti kita harus tutup mata terhadap kekurangan. Nasionalisme jangan dijadikan tameng untuk meminta masyarakat terus memaklumi produk yang belum andal,” jelasnya.

Mufti menambahkan bahwa jika INKA ingin menjadi perusahaan yang besar dan dipercaya oleh masyarakat, standar yang diterapkan harus lebih tinggi. “KRL Jabodetabek melayani kebutuhan masyarakat yang sangat besar setiap hari. Seharusnya ada armada cadangan dan rencana kedaruratan yang memadai,” tegasnya.

Ia juga menekankan bahwa masalah ini tidak seharusnya dipersempit ke isu impor. “Menurut saya persoalan ini jangan dipersempit menjadi apakah kita pro impor Jepang atau anti impor. Itu bukan inti masalahnya. Yang utama adalah memastikan armada cukup, aman, andal dan pelayanan masyarakat tidak terganggu,” ungkap Mufti.

Mufti menegaskan bahwa Komisi VI DPR ingin produksi dari INKA meningkat, tetapi keselamatan dan pelayanan penumpang harus tetap menjadi prioritas. Ia juga berbicara mengenai kemungkinan impor jika diperlukan untuk memenuhi kebutuhan perjalanan penumpang. “Kalau memang benar-benar dibutuhkan, impor bukan barang haram kok. Kita tentu ingin INKA menjadi tuan rumah di negeri sendiri, tetapi jangan sampai nasionalisme justru membuat rakyat harus membayar dengan kereta yang semakin padat, perjalanan berkurang, dan pelayanan terganggu,” jelasnya.

Mufti berharap INKA dapat memperbaiki kualitas produk yang dihasilkan, sehingga masyarakat dapat merasakan transportasi yang nyaman. “Jadi jangan pertentangkan impor dengan nasionalisme, yang kita bela bukan negara asal keretanya, yang kita bela adalah rakyat yang setiap hari bergantung pada KRL. Sambil INKA kita dorong memperbaiki kualitas dan naik kelas, negara wajib memastikan masyarakat tetap mendapatkan transportasi yang aman, andal, dan manusiawi,” tutupnya.

KAI Commuter Indonesia mengonfirmasi bahwa pengurangan jumlah perjalanan KRL rute Bogor-Jakarta Kota dilakukan hingga akhir September karena perawatan armada KRL. INKA bertanggung jawab atas perawatan KRL yang bermasalah tersebut.

Nanang Agung Rohmandiyas, Senior Manager Corporate Communication dan Representative Office PT INKA, menjelaskan bahwa pihaknya terlibat langsung dalam proses perawatan rangkaian sarana KRL seri iE305 yang diproduksi oleh INKA. Ia menekankan bahwa pemeriksaan ini bertujuan untuk memastikan seluruh komponen berfungsi dengan baik.

“Sejak awal proses ini berlangsung, tim engineering dan quality assurance kami sudah terjun langsung bersama tim KAI Commuter untuk memastikan setiap komponen, termasuk bogie dan sistem propulsi, berfungsi optimal. Kami mendukung penuh proses ini demi memastikan keandalan dan keselamatan sarana,” kata Nanang dalam rilis bersama KCI dan INKA.

Dia menegaskan komitmen INKA terhadap kualitas dan keandalan produk yang digunakan dalam layanan KRL. Sebagai bagian dari proses pemeriksaan menyeluruh ini, INKA akan terus berkoordinasi dengan KCI untuk memastikan seluruh rangkaian yang diproduksi memenuhi standar keselamatan dan kenyamanan bagi pengguna.

“Bagi kami, ini adalah bentuk tanggung jawab sebagai manufaktur dan sinergi dalam ekosistem perkeretaapian. Tentunya dengan tujuan meningkatkan kualitas produk demi kenyamanan dan keselamatan pengguna Commuter Line,” tutup Nanang.

Artikel Terkait