Fakta Ekonomi

INDEF Mendorong Pemerintah untuk Mengadopsi Kebijakan Berorientasi Ekspor demi Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

Ekonom senior dari INDEF, Didik J. Rachbini, menilai bahwa pemerintah perlu beralih dari kebijakan ekonomi yang berorientasi ke dalam menuju kebijakan yang lebih terbuka terhadap sektor luar negeri un...

S
Stevani Nila Wardana
10 August 2026
28 pembaca
Foto: ANTARA FOTO
Foto: ANTARA FOTO

Didik J. Rachbini, seorang ekonom senior dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), memberikan kritik terhadap kebijakan ekonomi pemerintah yang dipimpin oleh Prabowo Subianto. Ia menilai bahwa pendekatan yang diambil saat ini cenderung berfokus pada aspek domestik dan mengabaikan potensi sektor luar negeri. Menurutnya, sudah saatnya pemerintah mengubah perspektif menjadi lebih berorientasi ke luar.

“Kelemahan, kekurangan atau bahkan kesalahan kebijakan ekonomi terkait upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi utamanya hanya satu yakni mengabaikan sektor luar negeri. Seluruh upaya dan dinamika selama ini terlalu inward looking. Hanya sektor dalam negeri yang dikemas dengan berbagai kontroversi kebijakan, tetapi hasilnya tetap bertumbuh moderat sekitar 5 persen,” ujar Didik.

Pentingnya Kebijakan Berorientasi Ekspor

Didik menekankan bahwa belanja pemerintah yang dilakukan saat ini tidak akan berkelanjutan karena hanya berfungsi sebagai penyangga untuk mencegah pertumbuhan ekonomi jatuh di bawah 5 persen. Ia juga mengungkapkan bahwa masalah fiskal yang dihadapi, baik dari sisi penerimaan maupun pengeluaran, membuat kebijakan ini tidak dapat bertahan lama.

Lebih lanjut, ia menunjukkan bahwa ketergantungan pada konsumsi masyarakat sudah tidak dapat diandalkan sepenuhnya. Hal ini disebabkan oleh penurunan jumlah kelas menengah yang menghambat pertumbuhan ekonomi dari sisi konsumsi.

Pasar Global dan Kebutuhan untuk Bersaing

Didik menjelaskan bahwa meskipun Indonesia memiliki populasi yang besar dan pasar domestik yang luas, hal itu tidak cukup untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Ia menegaskan bahwa dunia usaha di Indonesia harus mampu bersaing di pasar global. “Di sinilah kebijakan outward looking menjadi penting karena bisa mendorong Indonesia eksis dalam persaingan global dengan harapan bisa memperoleh devisa yang besar,” ujarnya.

Ia memperingatkan bahwa jika kebijakan inward looking terus dipertahankan, pertumbuhan ekonomi tidak akan mampu melampaui angka yang dicapai saat ini. “Untuk menuju ke sana tidak ada jalan lain kecuali mengelola sektor luar negeri dengan kebijakan orientasi ekspor,” tegasnya.

Dengan demikian, untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, Indonesia perlu mengadopsi kebijakan yang lebih terbuka dan berorientasi pada sektor luar negeri.

Artikel Terkait