Fakta Pendidikan

Krisis Pendaftaran Siswa di Sekolah Negeri: Apa Penyebabnya?

Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) 2026 menunjukkan penurunan signifikan jumlah siswa baru di berbagai sekolah negeri di Indonesia. Beberapa sekolah bahkan hanya memiliki satu siswa yang terdaf...

P
Panca Akbar Saputra
15 July 2026
4 pembaca
Foto: irsyad
Foto: irsyad

Jakarta - Pada Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) 2026, terdapat fenomena yang mencolok di mana banyak kelas di berbagai sekolah dilaporkan sepi dari murid. Pantauan menunjukkan bahwa kondisi ini terjadi secara merata di seluruh Indonesia. Dalam satu kasus, hanya ada satu siswa yang terdaftar di SMP Negeri 26 Kabupaten Bengkulu Tengah, yaitu Muhammad Yuda, yang menjadi satu-satunya peserta MPLS untuk tahun ajaran 2026/2027.

Kepala Sekolah SMPN 26 Kabupaten Bengkulu, Sosnaidi, menjelaskan bahwa pihak sekolah telah melakukan berbagai upaya untuk menarik minat masyarakat agar lebih banyak siswa yang mendaftar. Berbagai strategi telah diterapkan, seperti melakukan sosialisasi ke sekolah dasar terdekat, menawarkan program seragam gratis, dan mendatangi rumah calon siswa secara langsung. Namun, meski berbagai langkah tersebut telah diambil, jumlah pendaftar di SMPN 26 tetap tidak mengalami peningkatan.

Fenomena Serupa di Pulau Jawa

Situasi serupa juga terjadi di Pulau Jawa. Di Kota Semarang, misalnya, SDN Purwoyoso 01 hanya menerima tiga siswa baru selama masa MPLS. Meskipun demikian, sekolah tersebut tetap melaksanakan kegiatan MPLS seperti biasa. Pertanyaan yang muncul adalah, mengapa banyak sekolah negeri mengalami kekurangan murid? Apakah sekolah negeri masih menjadi pilihan utama bagi orang tua untuk pendidikan anak-anak mereka?

Kasus Viral di Denpasar

Di sisi lain, di Denpasar, sebuah kasus terkait twibbon MPLS di SMK PGRI 5 Denpasar menjadi viral setelah unggahan salah satu calon siswi baru dianggap tidak etis dan menjadi perbincangan di media sosial. Pihak sekolah menegaskan bahwa mereka tidak pernah mengarahkan siswa untuk berpose dengan cara yang tidak pantas dan telah meminta foto tersebut untuk diganti. Akibat viralnya kasus ini, siswi yang bersangkutan mengalami perundungan di media sosial dan mendapatkan pendampingan psikologis dari sekolah. Selain itu, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Bali juga memberikan teguran kepada SMK PGRI 5 Denpasar agar lebih selektif dalam mengawasi konten publikasi siswa mereka.

Dengan berbagai isu yang muncul, penting untuk melihat bagaimana kondisi terkini siswi yang menjadi sorotan setelah kasus ini viral dan langkah-langkah yang akan diambil oleh sekolah untuk mencegah terulangnya polemik serupa.

Jangan lewatkan ulasan mendalam mengenai berita-berita terkini yang disiarkan secara langsung pada hari kerja, pukul 15.30-18.00 WIB, di platform berita terkemuka.

detik.com Sumber: detik.com

Artikel Terkait