Jakarta - Sri Mulyani berangkat ke Oxford University setelah 14 tahun menjabat sebagai Menteri Keuangan Indonesia. Selama hampir satu tahun mengajar, ia membagikan pengalamannya di universitas terkemuka dunia ini. Oxford University dikenal sebagai salah satu institusi pendidikan yang selalu berada di peringkat teratas dalam kategori universitas terbaik global. Sri Mulyani mengajar di Blavatnik School, yang merupakan bagian dari Oxford yang fokus pada kebijakan publik.
Mahasiswa Berkualitas di Blavatnik School
Mahasiswa di Blavatnik School bukanlah sembarang mahasiswa. Mereka adalah individu yang berperan sebagai perumus kebijakan publik yang akan menerapkan pengetahuan mereka di negara masing-masing. Dalam unggahan di Instagram @blavatnikschool, Sri Mulyani berbagi pandangannya mengenai pembelajaran yang ia lakukan di kampus tersebut. Ia mencatat adanya perbedaan geopolitik yang menciptakan banyak pilihan, namun juga memperumit tugas para pembuat kebijakan.
Tantangan Kecerdasan Buatan dalam Kebijakan Publik
Lebih lanjut, Sri Mulyani mengamati tren kecerdasan buatan (AI) yang memengaruhi cara mahasiswa belajar. Sebagai seorang pengamat, ia mencatat bahwa AI juga mengubah cara orang memberikan umpan balik terhadap kebijakan publik dengan lebih cepat dan ringkas. "Ini akan menjadi tantangan yang akan dihadapi oleh semua pembuat kebijakan, terutama generasi muda," ungkapnya dalam unggahan Instagram @blavatnikschool.
Ia menekankan bahwa setiap kebijakan akan efektif jika ada hasil yang jelas dan kepercayaan dari masyarakat. Namun, hal ini menjadi semakin sulit dicapai di tengah kondisi yang tidak stabil, baik di tingkat nasional maupun global. "Sebenarnya setiap kebijakan di tingkat publik akan efektif jika ada hasil dan kepercayaan, dan itu menjadi sangat sulit untuk diperoleh selama masa yang sangat fluktuatif dan terpecah-pecah ini, baik dalam masyarakat dan politik, maupun di tingkat nasional dan global," tuturnya.
Kembali ke Indonesia untuk Menguji Tesis
Di tengah kesibukannya di Oxford, Sri Mulyani juga meluangkan waktu untuk kembali ke Indonesia guna menguji tesis Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik (MPKP) di Universitas Indonesia pada awal Juli lalu. Mahasiswa yang berkesempatan diuji oleh mantan menteri keuangan ini adalah Zelani Nurfalah, yang merupakan lulusan terbaik dengan IPK sempurna.
Dalam unggahan di Instagram pribadinya, Sri Mulyani menyampaikan, "Minggu lalu saya diundang kembali oleh @mpkp.febui - Salemba. Kali ini sebagai penguji tesis sdr Zelani Nurfalah Mahasiswa MPKP angkatan 48B 2024 lulusan terbaik suma cum laude dengan IPK 4 - Zelani bekerja di BPS RI." Zelani mengajukan tesis berjudul "Trade Liberalization and Informality: Evidence from Tariff-Based Regional Exposure in Indonesia", yang dibimbing oleh Rus'an Nasrudin PhD dan diuji oleh Muhammad Hanri PhD.
Sri Mulyani juga memberikan pujian atas cara Zelani mempresentasikan tesisnya. Ia menganggap Zelani sangat percaya diri dan mampu menyampaikan argumennya dengan jelas dan logis. "Zelani mempresentasikan tesis dengan sangat baik, penuh percaya diri, artikulasi yang kuat, cerdas, dan logis. Menguasai data dan teori serta konteks. Saya turut bangga dengan hasil ujian tesis dan capaian belajar Zelani," kata Sri Mulyani.