Fakta Ekonomi

Lampung Kembangkan Energi Terbarukan dari Limbah Tapioka

Provinsi Lampung mulai memanfaatkan limbah industri tapioka sebagai sumber energi terbarukan dengan penandatanganan nota kesepahaman antara beberapa pihak untuk mengembangkan ekonomi hijau.

A
Agustinus Jaya Wiratama
01 August 2026
29 pembaca
Foto: dok istimewa
Foto: dok istimewa

Di Provinsi Lampung, upaya pemanfaatan limbah dari industri tapioka sebagai sumber energi terbarukan telah dimulai. Inisiatif ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara PT ESGIN Global Partners, Dewan Pimpinan Daerah Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Provinsi Lampung, dan Perhimpunan Pengusaha Tepung Tapioka Indonesia (PPTTI) untuk mengembangkan ekosistem ekonomi hijau yang berfokus pada sektor pertanian dan agroindustri.

Proyek Pengurangan Emisi Metana

Kerja sama ini bertujuan untuk mengembangkan proyek yang dapat mengurangi emisi metana di industri pengolahan tepung tapioka melalui teknologi penangkapan metana. Limbah cair yang dihasilkan dari pengolahan singkong akan dimanfaatkan menjadi biogas, yang merupakan energi terbarukan. Hal ini tidak hanya berfungsi untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, tetapi juga berpotensi menghasilkan kredit karbon yang dapat menjadi sumber nilai tambah bagi industri.

Penerapan Pertanian Cerdas Iklim

Selain sektor industri, kolaborasi ini juga mencakup sektor pertanian dengan penerapan metode Climate Smart Agriculture (CSA), penggunaan biochar, serta teknik Alternate Wetting and Drying (AWD) pada lahan pertanian. Pendekatan ini bertujuan untuk meningkatkan produktivitas pertanian, menjaga kesehatan tanah, memperkuat ketahanan terhadap perubahan iklim, serta menekan emisi gas rumah kaca. Melalui skema ini, diharapkan para petani dapat memanfaatkan mekanisme Nilai Ekonomi Karbon.

Seluruh pengembangan proyek ini akan didukung oleh sistem Digital Measurement, Reporting and Verification (Digital MRV) yang memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), citra satelit, Internet of Things (IoT), drone, dashboard digital, serta teknologi blockchain. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa pengukuran dan pelaporan emisi dilakukan secara transparan sesuai dengan standar yang berlaku baik nasional maupun internasional.

Lampung dipilih sebagai lokasi awal implementasi karena memiliki basis pertanian dan agroindustri yang kuat. Provinsi ini merupakan penghasil singkong terbesar di Indonesia dengan produksi sekitar 7,5 juta ton per tahun dan menjadi salah satu pusat industri pengolahan tepung tapioka di tingkat nasional. Kondisi ini memberikan peluang besar untuk mengembangkan model ekonomi hijau berbasis komoditas pertanian.

Yayang Ruzaldy, Wakil Presiden dan Kepala Wilayah Indonesia PT ESGIN Global Partners, menyatakan bahwa pengembangan proyek ini tidak hanya berfokus pada pengurangan emisi, tetapi juga membuka peluang investasi hijau yang memberikan manfaat ekonomi bagi sektor pertanian dan industri. "Lampung memiliki seluruh fondasi untuk menjadi pusat green economy berbasis pertanian di Indonesia. ESGIN berkomitmen untuk berinvestasi pada proyek-proyek strategis yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus manfaat lingkungan, mulai dari Climate Smart Agriculture, biochar hingga Methane Removal Project pada industri pengolahan tepung tapioka," ujarnya.

Menurutnya, integrasi antara investasi, teknologi digital, pembiayaan hijau, dan perdagangan karbon diharapkan dapat menciptakan model pembangunan yang meningkatkan kesejahteraan petani, memperkuat daya saing industri, serta mendukung target penurunan emisi nasional. Sebagai langkah selanjutnya, semua pihak akan menyusun studi kelayakan, mengidentifikasi lokasi prioritas, menyusun dokumen proyek karbon, mengimplementasikan Digital MRV, serta menyiapkan skema pembiayaan hijau untuk mempercepat realisasi investasi di sektor pertanian dan agroindustri.

Artikel Terkait