Fakta Ekonomi

Pasar Kripto Memperhatikan Kebijakan Moneter The Fed yang Stabil

Pelaku pasar aset kripto terus memantau kebijakan moneter yang diambil oleh Federal Reserve AS, yang baru saja mempertahankan suku bunga acuannya. Keputusan ini membuat harga Bitcoin tetap stabil sesu...

P
Panca Akbar Saputra
02 August 2026
34 pembaca
Foto: Dok Freepik
Foto: Dok Freepik

JAKARTA – Pelaku pasar di sektor aset kripto masih memperhatikan arah kebijakan moneter yang diambil oleh bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), yang telah memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya. Keputusan tersebut berimbas pada stabilitas harga Bitcoin yang sesuai dengan harapan pasar.

Stabilitas Harga Bitcoin Pasca Rapat FOMC

Aloysia Dian, Chief Marketing Officer Indodax, menyatakan bahwa harga Bitcoin cenderung stabil setelah pengumuman hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC). Ia menekankan bahwa saat ini pasar lebih fokus pada sinyal kebijakan moneter yang akan datang daripada hanya sekadar keputusan untuk mempertahankan suku bunga. “Bagi pasar, yang terpenting bukan hanya apakah suku bunga dinaikkan atau dipertahankan, tetapi juga seberapa besar kepastian yang diberikan terhadap arah kebijakan berikutnya,” ujarnya.

Setelah pengumuman hasil rapat FOMC, harga Bitcoin di platform Indodax bergerak di kisaran Rp1,15 miliar hingga Rp1,172 miliar. Aloysia menjelaskan bahwa minimnya volatilitas harga setelah keputusan The Fed menunjukkan bahwa kebijakan tersebut telah diperkirakan oleh pelaku pasar. Sentimen pasar saat ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk prospek ekonomi global dan arah kebijakan moneter yang akan datang.

Pengaruh Kebijakan The Fed terhadap Aset Kripto

Menurut Aloysia, kebijakan suku bunga yang diambil oleh The Fed memiliki dampak signifikan terhadap likuiditas global, biaya pendanaan, serta preferensi investor terhadap aset berisiko, termasuk aset kripto. Oleh karena itu, setiap perubahan dalam kebijakan moneter AS biasanya memengaruhi pergerakan harga Bitcoin. Meskipun demikian, ia mengingatkan para investor untuk tidak membuat keputusan berdasarkan fluktuasi harga jangka pendek. “Oleh karena itu, investor sebaiknya tetap disiplin menjalankan strategi investasinya dan tidak terpaku pada fluktuasi harga dalam jangka pendek, tetapi tetap disiplin menjalankan strategi investasi sesuai tujuan dan profil risikonya,” katanya.

Dalam kondisi pasar yang dinamis, Aloysia menyarankan penggunaan strategi Dollar Cost Averaging (DCA) sebagai pilihan investasi, karena metode ini memungkinkan investor untuk berinvestasi secara berkala dengan jumlah tetap, sehingga dapat mengurangi risiko akibat volatilitas harga. “Melihat kondisi pasar saat ini, DCA dapat menjadi salah satu strategi yang relevan karena membantu investor berinvestasi secara bertahap di tengah volatilitas,” ujarnya. Ia juga menekankan pentingnya bagi investor untuk melakukan riset secara mandiri atau Do Your Own Research (DYOR) agar keputusan investasi didasarkan pada pemahaman yang baik.

Artikel Terkait