Bank Indonesia (BI) diprediksi masih memiliki kesempatan untuk meningkatkan suku bunga acuan (BI Rate) hingga dua kali lagi, masing-masing sebesar 25 basis poin, sebelum tahun ini berakhir. Kenaikan ini dianggap perlu jika tekanan terhadap nilai tukar rupiah akibat ketidakpastian di pasar global terus berlanjut.
Kondisi Global dan Pengaruhnya Terhadap BI Rate
Ekonom dari Bank Danamon, Irman Faiz, menyatakan bahwa peluang untuk menaikkan BI Rate masih ada. Namun, keputusan ini sangat bergantung pada perkembangan situasi global, khususnya terkait dengan ketegangan geopolitik dan fluktuasi di pasar keuangan. “Perkiraan kami masih ada ruang kenaikan suku bunga dua kali, masing-masing 25 basis poin, sampai akhir tahun. Namun, kalau nanti kondisi global membaik, BI mungkin tidak perlu memanfaatkan seluruh ruang tersebut,” ujar Irman saat ditemui setelah acara Media Luncheon dalam rangka HUT ke-70 Danamon di Jakarta.
Menurut Irman, pergerakan nilai tukar rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal, terutama perkembangan konflik geopolitik dan harga minyak dunia. Meskipun demikian, ia menilai bahwa tekanan terhadap rupiah masih dapat dikendalikan karena lonjakan harga minyak belum mencapai tingkat yang dikhawatirkan oleh pasar.
Stabilitas Ekonomi dan Kebijakan Fiskal
Irman menambahkan bahwa kebijakan moneter saja tidak cukup untuk menjaga stabilitas rupiah. Pemerintah juga perlu menjaga disiplin fiskal agar kepercayaan investor tetap terjaga. Ia mengungkapkan bahwa keputusan dari Standard & Poor’s (S&P) Global Ratings yang mempertahankan peringkat utang Indonesia di level BBB dengan prospek stabil merupakan sinyal positif bagi pasar. Penilaian tersebut menunjukkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih dianggap kuat meskipun berbagai kebijakan pemerintah sedang dalam masa transisi.
“S&P menilai arah transformasi pemerintah sudah positif. Yang menjadi perhatian sekarang adalah bagaimana kebijakan tersebut dijalankan. Eksekusinya harus baik agar kepercayaan investor tetap terjaga,” tambahnya.
Irman juga memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2026 akan lebih baik dibandingkan kuartal sebelumnya. Optimisme ini didorong oleh potensi meningkatnya realisasi belanja pemerintah pada paruh kedua tahun ini, yang diharapkan dapat menggerakkan konsumsi masyarakat dan investasi. Namun, ia mengingatkan bahwa pemerintah harus memastikan penerimaan negara, khususnya pajak, sesuai target agar ruang belanja untuk mendorong pertumbuhan ekonomi tetap terjaga. “Belanja pemerintah bisa menjadi pendorong pertumbuhan. Tetapi penerimaan negara juga harus tetap sesuai target agar stimulus yang sudah disiapkan bisa berjalan optimal,” tutup Irman.