JAKARTA - Analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan bahwa rupiah memiliki potensi untuk menguat. Hal ini terjadi setelah Amerika Serikat (AS) membatalkan rencana serangan terhadap Iran.
“Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS oleh harapan damai di Timteng (Timur Tengah) setelah Trump (Presiden AS Donald Trump) mengatakan pada Minggu (2/8/2026) pagi bahwa ia telah membatalkan rencana serangan terhadap Iran menyusul permintaan dari Teheran dan negara-negara tetangganya di kawasan tersebut,” jelasnya di Jakarta, Senin (3/8/2026).
Pembatalan Serangan dan Dampaknya
Menurut laporan dari Anadolu, Trump menyatakan bahwa pembatalan serangan tersebut diakibatkan oleh permintaan negara-negara lain di Timur Tengah yang meminta waktu untuk menyelesaikan kerangka kesepakatan damai. Dalam unggahan di platform media sosialnya, Truth Social, Trump mengklaim bahwa semua pihak telah sepakat mengenai batas-batas dari potensi kesepakatan yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz secara segera, penuh, dan total, serta diakhirinya ancaman nuklir dari Iran.
Prediksi Pergerakan Rupiah
Trump juga menyatakan bahwa ia setuju untuk membatalkan serangan tersebut “demi kepentingan masa depan dunia dan juga demi kelangsungan hidup Iran yang sukses dan makmur.” Namun, ia menegaskan bahwa keputusan tersebut bergantung pada kemampuan semua pihak untuk “segera mencapai kesepakatan.” Di sisi lain, rupiah diperkirakan akan menguat terbatas seiring investor yang menantikan rilis data ekonomi penting domestik pada siang ini.
“(Data neraca) perdagangan diperkirakan akan kembali defisit 0,79 miliar dolar dan inflasi diperkirakan naik 0,1 persen MoM (Month on Month), dan inflasi YoY (Year on Year) turun ke 3,2 persen,” ungkap Lukman. Dengan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut, rupiah diperkirakan akan bergerak di kisaran Rp17.950-Rp18.100 per dolar AS.