Presiden Prabowo Subianto menginformasikan bahwa PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) telah menemukan potensi tambahan pendapatan negara mencapai 5 miliar dolar AS melalui pengawasan dan pemantauan aktivitas ekspor beberapa komoditas strategis ke luar negeri. Pengumuman ini disampaikan di depan lebih dari 600 anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang berkumpul di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen RI, Jakarta, pada hari Jumat.
Dalam waktu dua bulan dan 13 hari setelah pembentukannya pada Mei 2026, PT DSI telah berhasil memantau lebih dari 6.000 transaksi ekspor dari tiga komoditas utama, yaitu batu bara, kelapa sawit, dan ferro alloy. "DSI telah menemukan potensi tambahan 5 miliar dolar AS hanya dari perbedaan dan penyesuaian harga. Saudara-saudara sekalian, dari pembayaran devisa hasil ekspor, bayangkan kalau dalam waktu yang akan datang, semua komoditas ekspor kita akan dimonitor dan dikelola oleh PT DSI, berapa peningkatan hasil yang akan masuk ke negara," ungkap Prabowo dalam pidato kenegaraannya saat Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI-DPD RI.
Perluasan Pengawasan PT DSI
Presiden menambahkan bahwa PT DSI akan memperluas cakupan pengawasannya ke 50 pelabuhan yang tersebar di 25 provinsi. Selain itu, pengawasan tidak hanya akan terbatas pada tiga komoditas strategis tersebut, tetapi juga akan mencakup komoditas unggulan lainnya. "PT DSI akan mengelola semua komoditas strategis kita, tidak hanya tiga. Kita tidak ingin lagi bangsa Indonesia dicurangi, kekayaan Indonesia tidak boleh memperkaya segelintir orang dan meninggalkan rakyat kita hidup susah. Ini bukan saja tidak adil, ini bukan sikap negara yang pandai. Barang kita, milik kita, orang lain yang tentukan harganya," tegas Presiden.
Praktik Kecurangan dalam Ekspor
Dalam kesempatan yang sama, Prabowo menggarisbawahi bahwa praktik-praktik kecurangan yang sering terjadi dalam transaksi ekspor komoditas strategis telah melanggar prinsip ekonomi dan pasar. Ia memberikan contoh praktik kecurangan under-invoicing yang terjadi pada ekspor kelapa sawit. "Sebelumnya, minyak sawit mentah, sawit Indonesia dijual di pelabuhan Indonesia, dijual sekitar Rp 15.000 per kilogram, sementara harga di bursa Rotterdam, Belanda, harganya Rp 27.000 per kilogram. Padahal di Belanda satu hektare pun tidak ada kebun kelapa sawit. Artinya, sesungguhnya kita hilang hampir 50 persen nilai komoditas kita," jelasnya.