Fakta Ekonomi

Prospek Ekonomi Global Lemah, Namun Pertumbuhan Domestik Masih Kuat

Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi global masih dalam kondisi lemah, sementara ekonomi domestik menunjukkan tanda-tanda perbaikan yang signifikan.

N
Narayana Putra
19 August 2026
29 pembaca
Foto: Eva Rianti/Republika
Foto: Eva Rianti/Republika

Bank Indonesia (BI) mengungkapkan bahwa kondisi perekonomian global masih mengalami pelemahan di tengah ketidakpastian yang terjadi di bidang geoekonomi dan geopolitik. Di sisi lain, ekonomi domestik dinilai tetap stabil dan bahkan menunjukkan perbaikan dibandingkan dengan proyeksi sebelumnya.

Proyeksi Pertumbuhan Global dan Inflasi

“Prospek perekonomian global masih lemah disertai dengan ketidakpastian pasar keuangan yang tetap tinggi. Kondisi ini dipengaruhi oleh berlanjutnya intensitas perang di Timur Tengah yang mendorong harga minyak dan komoditas dunia lainnya kembali naik. Pertumbuhan ekonomi dunia 2026 belum kuat yang diprakirakan sekitar 3 persen,” ungkap Pejabat Gubernur Sementara (PGS) BI Destry Damayanti dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulan Agustus 2026 yang digelar secara daring.

BI juga memproyeksikan tekanan inflasi global tetap tinggi, sekitar 4,5 persen pada 2026, yang mendorong kebijakan moneter global menjadi lebih ketat. Ini termasuk kenaikan suku bunga kebijakan moneter AS, Fed Funds Rate (FFR), yang diperkirakan akan meningkat pada kuartal IV 2026. Imbal hasil (yield) US Treasury juga diprediksi akan tetap tinggi seiring dengan ekspektasi kenaikan FFR dan defisit anggaran AS yang masih lebar.

Kondisi Ekonomi Domestik yang Kuat

Meski proyeksi pertumbuhan ekonomi global dinilai melemah, BI menilai ekonomi domestik cenderung lebih kuat. Hal ini terlihat dari realisasi angka pertumbuhan ekonomi pada semester I 2026 yang cukup menggembirakan. "Pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap terjaga baik dan perlu terus didorong untuk memperkuat momentum pertumbuhan. Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II 2026 tercatat sebesar 5,29 persen (yoy), melanjutkan pertumbuhan pada kuartal sebelumnya sebesar 5,61 persen (yoy)," tuturnya.

Destry menjelaskan bahwa konsumsi pemerintah tetap tumbuh tinggi, didorong oleh peningkatan belanja pegawai, termasuk pembayaran gaji ke-13, serta belanja barang dan jasa terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG). Di sisi lain, konsumsi rumah tangga juga menunjukkan kinerja yang baik, meskipun perlu terus ditingkatkan dengan memanfaatkan momentum stimulus fiskal yang kuat. Ekspor juga perlu didorong lebih lanjut untuk memperkuat struktur pertumbuhan ekonomi.

“Ke depan, pertumbuhan ekonomi diperkirakan tetap baik ditopang implementasi berbagai program stimulus pemerintah dan keyakinan pelaku ekonomi yang terjaga. BI terus memperkuat bauran kebijakan melalui kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran yang bersinergi erat dengan kebijakan pemerintah untuk menjaga stabilitas dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi. BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 berada dalam kisaran 4,9–5,7 persen,” jelasnya.

Artikel Terkait