Jakarta - Ketegangan antara Israel dan Iran belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Amerika Serikat (AS) mengungkapkan adanya rencana dari Israel untuk membunuh pejabat Iran saat kedua negara sedang melakukan negosiasi untuk mengakhiri perang.
Perang yang melibatkan AS dan Iran dimulai pada 28 Februari lalu, yang kemudian meluas hingga melibatkan tiga negara. Harapan untuk perdamaian muncul ketika AS dan Iran sepakat untuk berdamai dan terlibat dalam beberapa perundingan. Namun, Israel menolak upaya perdamaian tersebut dan telah menargetkan untuk membunuh dua pejabat Iran yang berperan penting dalam proses negosiasi.
Target Pembunuhan Pejabat Iran
Pejabat yang menjadi sasaran Israel adalah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf. Informasi ini diperoleh dari laporan New York Times (NYT) yang dipublikasikan pada Kamis (2/7), yang mengutip sejumlah pejabat AS baik yang masih aktif maupun yang sudah pensiun.
Menurut laporan dari NYT yang juga dilansir oleh TRT World dan The Times of Israel pada Jumat (3/7/2026), peringatan mengenai rencana pembunuhan tersebut disampaikan secara tidak langsung oleh AS kepada negara-negara di Timur Tengah. AS meminta sekutunya untuk memberi tahu Iran tentang ancaman dari Israel.
Kekhawatiran AS dan Reaksi Iran
Sejumlah pejabat AS meyakini bahwa Israel telah merencanakan pembunuhan terhadap Araghchi dan Ghalibaf, yang merupakan negosiator utama Iran. Rencana ini muncul pada minggu-minggu awal setelah gencatan senjata diberlakukan pada awal April lalu, saat perundingan antara Washington dan Teheran yang dimediasi oleh Pakistan semakin intensif.
Pejabat pemerintahan Presiden AS Donald Trump merasa sangat khawatir dan meminta negara-negara sekutunya di kawasan untuk memperingatkan Iran mengenai kemungkinan upaya Israel untuk menargetkan kedua pejabat tersebut. Mereka percaya bahwa setiap upaya pembunuhan setelah dimulainya negosiasi serius pada bulan April akan mengganggu proses perundingan dan memicu kembali konflik antara AS-Israel dan Iran.
NYT juga melaporkan bahwa Washington mengetahui bahwa Ghalibaf telah dimasukkan dalam daftar target Israel dan mendesak agar rencana tersebut tidak dilaksanakan. Laporan ini mencakup pernyataan dari pejabat Iran yang menyatakan bahwa Teheran meminta jaminan dari AS, melalui mediator Pakistan dan Qatar, agar Israel tidak menyerang tim negosiator mereka selama pertemuan berlangsung.
Ancaman nyata terhadap Ghalibaf muncul ketika ia sedang dalam penerbangan kembali ke Teheran dari Islamabad setelah bertemu dengan Wakil Presiden AS JD Vance pada 12 April lalu. Menurut dua pejabat Teheran yang berbicara kepada NYT, pasukan keamanan Iran memberitahu awak pesawat tentang informasi intelijen yang menunjukkan rencana Israel untuk menyerang pesawat tersebut. Dua jet tempur Israel bahkan terdeteksi memasuki wilayah udara Iran secara ilegal pada saat itu.
Akhirnya, pesawat yang membawa Ghalibaf dialihkan dan melakukan pendaratan darurat di Mashhad, di bagian timur laut Iran. Ghalibaf dan anggota delegasi lainnya kemudian melanjutkan perjalanan ke Teheran melalui jalur darat.
Hingga kini, AS dan Iran masih terlibat dalam perundingan untuk mencapai kesepakatan akhir guna mengakhiri perang. Namun, belum ada indikasi bahwa Israel akan melunak dalam sikapnya terhadap konflik di Timur Tengah.