Jakarta - Rumah seorang pengacara bernama Sulardi yang terletak di Ciracas, Jakarta Timur, menjadi sasaran pelemparan bom molotov oleh orang tidak dikenal. Sulardi berpendapat bahwa insiden ini mungkin terkait dengan kasus sengketa lahan yang sedang dia tangani.
"Kalau dugaan saya itu ada kaitan sengketa lahan itu di Kebon Jeruk itu. Saya demi membantu ya masyarakat yang punya hak kemudian haknya itu dikuasai orang lain gitu lho. Nah, itu gambarannya seperti itu," ungkap Sulardi saat dihubungi oleh wartawan pada Minggu (5/7/2026).
Dia menjelaskan bahwa sudah ada putusan dari Pengadilan Negeri Jakarta Barat mengenai sengketa lahan tersebut. Sulardi dan tim kuasa hukumnya sedang berusaha untuk mengembalikan hak kliennya atas tanah yang disengketakan. "Putusan sudah inkrah, kemudian kita mencoba untuk menguasai tanah milik klien saya bersama teman-teman, kan gitu. Ceritanya masalahnya itu aja. Awalnya insyaallah seperti itu," tambahnya.
Indikasi Pelemparan Terkait Kasus Hukum
Menurut Sulardi, dia tidak memiliki masalah sebelumnya dan menduga bahwa pelemparan molotov oleh orang tidak dikenal di depan rumahnya berkaitan dengan kasus sengketa lahan yang sedang ditanganinya. "Betul, betul (diduga karena sedang menangani perkara tersebut). Dugaannya seperti itu karena memang sebelumnya saya juga nggak pernah ada masalah. Saya kerja biasa-biasa aja, tapi ya belakangan ini. Terkait dengan objek itu kok ada pihak sana pihak sini yang kemudian mengondisikan situasi sehingga ya terjadilah seperti kemarin di rumah saya itu," jelasnya.
Kecurigaan Terhadap Pelaku
Sulardi menyebutkan bahwa pelemparan bom molotov tersebut terjadi pada Kamis (3/7) sekitar pukul 02.30 WIB. Dia menambahkan bahwa pada Senin (29/6), tetangganya sempat curiga melihat ada orang yang mondar-mandir di sekitar kediamannya. "Itu hari Senin malam itu ya memang ada pihak-pihak yang dicurigai oleh tetangga-tetangga itu, oleh teman-teman yang pada nongkrong di depan itu mencurigailah itu bukan orang lama, orang baru gitu lho, orang asing," tuturnya.
Dia menjelaskan bahwa ada orang yang bertanya kepada tetangga sekitar, tetapi tidak ada yang mengenal mereka. "Memperhatikan situasi, mondar-mandir, lihat situasi lingkungan, kemudian bertanya sana bertanya sini. Seolah-olah itu dia akan ada yang mencari sesuatu, membeli sesuatu. Tapi indikasinya itu tidak dikenal oleh tetangga itu, tetangga-tetangga dan teman-teman itu enggak mengenal siapa mereka gitu," tambahnya.
Saat kejadian, Sulardi terbangun sekitar pukul 02.00 WIB untuk melaksanakan salat. Dia kemudian mendengar teriakan dari luar setelah orang tidak dikenal melemparkan bom molotov. "Nah, kemudian pas kebetulan saya bangun jam 02.15 WIB ya, jam 02.15 itu setelah saya mau persiapan mau mandi, ternyata ada yang teriak-teriak dari luar, manggil-manggil. 'Pak Haji, Pak Haji, Pak Haji'. Nah, kemudian saya keluar. Begitu saya keluar kok ada api menyala," ungkapnya.
Dia melanjutkan bahwa akibat dari kejadian tersebut, gerbang rumahnya terbakar, tetapi api dapat dipadamkan sebelum merembet lebih jauh. "Hanya pintu gerbang aja, pintu gerbang (terbakar) terkena pintu gerbang. Cuma karena minyaknya itu di bawah, yang terbakar itu bagian bawah," jelasnya.
Polisi saat ini sedang menyelidiki kasus pelemparan bom molotov di rumah Sulardi. Mereka tengah memeriksa rekaman CCTV di sekitar lokasi untuk mengidentifikasi pelaku. "Iya, tentu polisi melakukan pengecekan CCTV di lokasi tersebut," kata Kasi Humas Polres Metro Jakarta Timur, AKP Made Budi, saat dimintai konfirmasi pada Sabtu (4/7).
Made juga menyebutkan bahwa dua orang saksi telah diperiksa terkait insiden ini. Berdasarkan keterangan saksi, pelemparan bom molotov diduga dilakukan oleh dua orang yang mengendarai sepeda motor. "Menurut keterangan para saksi yang berada di tempat kejadian, tindakan dilakukan oleh dua orang diduga pelaku yang menggunakan sepeda motor dengan membawa botol berisi bahan yang diduga bom molotov," ujarnya.